Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah menggenjot sejumlah proyek strategis, mulai dari pengembangan infrastruktur logistik batu bara hingga diversifikasi bisnis ke sektor hilirisasi dan energi terbarukan. Proyek utama yang sedang dikebut adalah jalur Tanjung Enim–Kramasan, yang dilaporkan telah mencapai progres sekitar 93%.
Proyek infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas angkutan dan memperkuat sistem logistik serta distribusi batu bara. PTBA telah mendapatkan komitmen pendanaan senilai hingga Rp3,56 triliun melalui Term Sheet dengan bank-bank Himbara untuk fasilitas pinjaman jangka panjang. Selain itu, PTBA juga mempercepat pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6–7 pada jalur yang sama.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menyatakan bahwa penguatan infrastruktur ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. “Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim–Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6–7 agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Proyek Hilirisasi dan Diversifikasi Bisnis
Selain fokus pada infrastruktur, PTBA juga aktif menggarap proyek hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya batu bara dan membangun mesin pertumbuhan baru. Perusahaan bersama mitra strategis terus mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan Metanol, mencakup aspek teknologi, keekonomian, dan skema bisnis.
PTBA juga mengembangkan Kalium Humat, produk olahan batu bara yang ditujukan untuk sektor pertanian. Pilot plant Kalium Humat saat ini berkapasitas 171 ton per tahun, dengan target pengembangan menjadi 10.000 ton per tahun. “Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, Metanol, dan Kalium Humat,” jelas Bambang.
Pengembangan Energi Terbarukan
Dalam upaya diversifikasi, PTBA memperluas portofolio ke sektor energi terbarukan. Melalui kemitraan dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), PTBA menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pascatambang dan area operasionalnya. Pengembangan ini mencakup pemanfaatan lahan pascatambang yang telah direklamasi, dengan total portofolio PLTS PTBA saat ini mencapai sekitar 1,2 MWp.
Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi PTBA untuk mengoptimalkan aset, memperkuat portofolio energi terbarukan, mendukung transisi energi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru. Ke depan, PTBA terus mengidentifikasi proyek potensial di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset, dan bidang bisnis lainnya. Setiap proyek akan dikaji secara selektif berdasarkan aspek keekonomian, kesiapan teknologi, kepastian pasar, kebutuhan investasi, serta potensi sinergi.
Batu Bara Tetap Menjadi Kekuatan Utama
Bambang menegaskan bahwa bisnis batu bara akan tetap menjadi tulang punggung PTBA. Namun, perusahaan juga secara proaktif mempersiapkan diri menghadapi perubahan lanskap energi global melalui pengembangan portofolio bisnis yang lebih beragam. “Prinsip kami adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maupun pemangku kepentingan,” tuturnya.
Dengan memperkuat bisnis inti sekaligus mengembangkan bisnis baru, PTBA optimistis dapat terus tumbuh dan berkontribusi pada ketahanan energi serta perekonomian nasional.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.