Jurnal Indonesia — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin, 7 September 2026. Saham emiten perbankan ini melemah 1,12% ke level Rp 6.625.
Dalam perdagangan tersebut, saham BBCA diperdagangkan sebanyak 65,12 juta lembar dengan frekuensi transaksi mencapai 20.528 kali. Total nilai transaksi yang terhimpun adalah Rp 432,79 miliar. Investor asing tercatat kembali melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 39,25 miliar.
Sebelumnya, pada Jumat, 4 September 2026, saham BBCA juga mengalami penurunan sebesar 1,11%. Penurunan ini terjadi setelah sahamnya sempat menguat selama tiga hari bursa berturut-turut. Pada Jumat pekan lalu, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 63,59 miliar. Periode 28 Agustus hingga 3 September 2026, saham BBCA secara konsisten mencatatkan net buy dari investor asing.
Di tengah fluktuasi harga sahamnya, KB Valbury Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Perusahaan sekuritas ini menetapkan target harga saham BBCA di angka Rp 9.480. Target harga ini mengindikasikan adanya potensi kenaikan harga saham hingga 41,5% dari harga penutupan terakhir.
Target harga tersebut didasarkan pada valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury Sekuritas menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar saat ini sedang menurun, kondisi valuasi yang ada membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham. Hal ini dapat terjadi apabila katalis positif mulai terealisasi.
Perusahaan sekuritas tersebut mengidentifikasi beberapa katalis yang berpotensi mendukung pergerakan saham BBCA. Salah satunya adalah pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang diprediksi lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).
Faktor pendukung lainnya adalah cost of credit (CoC) yang berpotensi lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini dapat terjadi jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus menunjukkan perbaikan.
Perbaikan sentimen pasar, baik di tingkat domestik maupun global, juga menjadi salah satu katalis penting yang diperhitungkan oleh KB Valbury Sekuritas.
Meskipun demikian, KB Valbury Sekuritas turut mencatat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi proyeksi BBCA. Risiko-risiko tersebut antara lain jika pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan.
Selain itu, biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja BCA. Penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan juga menjadi faktor risiko lain yang perlu dicermati.
KB Valbury Sekuritas juga mengamati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang dapat berdampak pada proyeksi kinerja BCA (BBCA).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.