— JAKARTA – Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) baru-baru ini mengalami perubahan signifikan dengan terus membukukan aksi jual bersih (net sell) dari investor asing. Pada Selasa (8/9/2026), nilai jual bersih asing di saham emiten rokok ini tercatat mencapai Rp 2,84 miliar.

Dalam periode 1 hingga 8 September, saham Gudang Garam mayoritas terdampak aksi jual bersih asing, hanya tercatat satu kali aksi beli bersih pada 4 September dengan nilai tipis Rp 360,45 juta. Meskipun demikian, harga saham GGRM berhasil bertahan stabil di kisaran Rp 20.000-an, bahkan ditutup menguat 0,25% ke level Rp 20.150 pada perdagangan Selasa kemarin.

Sebelumnya, saham GGRM secara bulanan selalu membukukan aksi beli bersih asing sejak April hingga Agustus 2026. Perubahan tren ini menimbulkan pertanyaan mengenai nasib sahamnya di bulan September ini. Saat ini, saham Gudang Garam masih terdaftar dalam Indeks MSCI Small Cap.

Proyeksi Laba Bersih yang Menguat Tajam

Di sisi lain, laba bersih PT Gudang Garam Tbk (GGRM) diproyeksikan akan menguat tajam pada tahun 2026 dan terus bertumbuh pada 2027. Hal ini didorong oleh strategi efisiensi biaya yang efektif dan pemulihan margin yang positif. Laba bersih diperkirakan dapat mencapai Rp 4,6 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 5,3 triliun pada 2027, sehingga rekomendasi saham GGRM pun di-upgrade.

Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia M, menaikkan proyeksi laba bersih Gudang Garam tahun ini sebesar 32,3% dan estimasi laba bersih pada 2027 dinaikkan 20,9%. Dengan revisi ini, laba bersih emiten berkode GGRM tersebut pada 2026 diperkirakan melonjak 198,4% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 4,6 triliun. Untuk tahun 2027, laba bersih diproyeksikan tumbuh kembali sebesar 15,5% yoy menjadi Rp 5,3 triliun.

“Proyeksi ini mengikuti kinerja laba semester I-2026 yang jauh melampaui ekspektasi. GGRM membukukan laba bersih Rp 3 triliun atau melonjak tinggi 2.440,2% yoy,” tulis Catherine dalam risetnya.

Realisasi laba semester I-2026 tersebut telah mencapai 64,1% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 68,5% dari estimasi konsensus untuk tahun 2026. Lonjakan laba ini ditopang oleh efek basis rendah dan pemulihan margin yang kuat, meskipun permintaan inti masih menunjukkan pelemahan yang menyebabkan pendapatan GGRM turun 7,2% yoy menjadi Rp 41,2 triliun.

Efisiensi Biaya Dongkrak Laba

Pemulihan laba bersih Gudang Garam terutama bersumber dari efisiensi biaya. Harga pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) turun 13,3% yoy, lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatan. Beban cukai juga berkurang 14% yoy.

Secara bersamaan, beban operasional (operating expenses/opex) turun tajam 33,8% yoy, yang didukung oleh penurunan beban karyawan sebesar 27,2% yoy. Jumlah karyawan GGRM per Juni 2026 tercatat sekitar 21.100 orang, menurun dari sekitar 27.000 orang pada Juni 2025, menunjukkan efisiensi tenaga kerja yang terus berlangsung.

“Beban pokok pendapatan yang turun lebih cepat daripada pendapatan, ditambah komposisi produk yang lebih baik, membantu pemulihan margin. Penurunan opex kemudian membuat perbaikan tersebut ikut tercermin pada laba bersih,” jelas Catherine.

Kebijakan Cukai dan Rekomendasi Saham

Menteri Keuangan Purbaya mengindikasikan bahwa pemerintah tidak berencana menaikkan atau menurunkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2027. Fokus kebijakan akan bergeser pada stabilitas industri dan pengawasan yang lebih ketat. Indikasi ini dinilai Catherine dapat membantu meredakan tekanan terhadap profitabilitas GGRM.

Meskipun demikian, lonjakan laba bersih Gudang Garam belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan permintaan produk rokok yang masih mengalami tekanan. Pendapatan pada semester I-2026 masih turun menjadi Rp 41,2 triliun.

Oleh karena itu, MNC Sekuritas tetap berhati-hati terhadap keberlanjutan pemulihan permintaan inti, karena pertumbuhan laba saat ini lebih banyak ditopang oleh perbaikan struktur biaya dibandingkan ekspansi pendapatan. Namun, keberhasilan GGRM dalam menjaga efisiensi dan stabilitas tarif cukai berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi pemulihan profitabilitas pada 2027.

Seiring dengan revisi naik proyeksi laba, MNC Sekuritas meningkatkan rekomendasi saham GGRM dari hold menjadi buy, dengan target harga saham dipatok sebesar Rp 24.700. Target harga ini mencerminkan price to earnings ratio (PE) sebesar 10,2 kali untuk proyeksi 2026 dan 8,9 kali untuk 2027, serta price to book value (PBV) diperkirakan masing-masing 0,7 kali untuk tahun 2026 dan 2027.

Meskipun tetap berhati-hati terhadap pemulihan permintaan produk rokok, MNC Sekuritas menilai perbaikan laba yang ditopang efisiensi biaya serta imbal hasil dividen yang menarik masih memberikan ruang bagi potensi kenaikan harga saham Gudang Garam (GGRM).