— PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) diprediksi tetap mampu mencetak kenaikan laba bersih meskipun menghadapi berbagai tantangan bisnis. Prediksi ini menjadi dasar optimisme terhadap saham DKFT untuk mencapai target harga yang lebih tinggi.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh UOB Kay Hian, DKFT diperkirakan akan meraup laba bersih sebesar Rp573 miliar pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 56% dari periode sebelumnya. Sementara itu, pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh 7,9% menjadi Rp1,5 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan bijih nikel yang diprediksi naik 16,6% menjadi 3 juta ton, serta peningkatan margin laba kotor menjadi 49,7%.

Namun, UOB Kay Hian mencatat bahwa dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun 2026, kuota DKFT mengalami penurunan sebesar 35% menjadi hanya 1,93 juta ton. “Tetapi, dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026, kuota DKFT turun 35% menjadi tinggal 1,93 juta ton,” tulis UOB Kay Hian, dikutip Jumat (17/7/2026).

Meskipun demikian, kebijakan harga patokan mineral (HPM) dinilai mampu memberikan dampak positif dengan mendongkrak harga bijih nikel. Hal ini berpengaruh baik terhadap kinerja perseroan. Pendapatan dan laba bersih DKFT pada kuartal I-2026 dilaporkan naik 20% dan 72% menjadi Rp506 miliar dan Rp238 miliar, meskipun penjualan mengalami penurunan 19%.

Revisi RKAB dan Target Harga Saham

UOB Kay Hian menilai bahwa revisi RKAB pada Juli 2026 berpotensi menjadi faktor penentu pergerakan saham DKFT. Pihak manajemen DKFT menargetkan untuk dapat memperoleh kuota sebesar 4 juta ton, sementara UOB Kay Hian masih memproyeksikan angka 1,9 juta ton.

“Kami memprediksi laba bersih DKFT tahun 2026 tumbuh 10% menjadi Rp633 miliar, sebelum loncat menjadi Rp734 miliar tahun 2027,” tulis UOB Kay Hian.

Berdasarkan proyeksi tersebut, UOB Kay Hian menetapkan rekomendasi ‘buy’ untuk saham DKFT dengan target harga Rp820. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sebesar 21% dari harga saham saat riset dibuat, yaitu Rp675.