Jurnal Indonesia — JAKARTA – Efisiensi biaya operasional menjadi fokus utama industri pertambangan, terutama dalam pengelolaan ban kendaraan angkut dan alat berat yang beroperasi di medan ekstrem.
PT Sailun Tire Indonesia menyatakan bahwa komponen ban dapat menyumbang sekitar 15% hingga 20% dari total biaya operasional kendaraan. Oleh karena itu, pemilihan produk yang tepat dinilai berpengaruh signifikan terhadap produktivitas dan risiko waktu henti operasional (downtime).
Hal ini terungkap dalam partisipasi Sailun Group pada ajang Mining Expo 2026 yang diselenggarakan 9-12 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pada pameran tersebut, perusahaan memamerkan portofolio ban untuk kebutuhan pertambangan dan kendaraan komersial dari berbagai merek, termasuk Sailun Tire, MAXAM, RoadX Tire, dan Blackhawk Tire.
President Assistant & General Manager of Asia Region Sailun Group, Guoqiang Cao, mengungkapkan bahwa kebutuhan industri pertambangan tidak hanya terbatas pada daya tahan ban, tetapi juga efisiensi biaya dalam jangka panjang.
Menurutnya, kondisi operasional di sektor tambang menuntut ban dengan kemampuan menahan beban berat, permukaan berbatu, lumpur, serta risiko kerusakan yang dapat menghentikan operasional kendaraan.
Salah satu lini produk yang dirancang untuk kebutuhan tersebut adalah ban Off-The-Road (OTR) melalui merek MAXAM, yang dikhususkan untuk aplikasi beban berat seperti di tambang terbuka. Sementara itu, Sailun, RoadX, dan Blackhawk menawarkan pilihan untuk kendaraan komersial, mulai dari dump truck hingga armada logistik.
“Partisipasi Sailun Group di Mining Expo 2026 merupakan wujud komitmen nyata kami dalam mendukung kemajuan industri vital di Indonesia. Melalui peluncuran Sailun Terramax M/T 2 buatan lokal ini, kami menghadirkan teknologi dan kemampuan manufaktur global lebih dekat dengan kebutuhan pasar. Kami ingin menjadi trusted partner yang tumbuh bersama ekosistem industri Indonesia, dengan menyediakan solusi ban pertambangan yang tangguh, aman, serta menekan biaya operasional jangka panjang,” ujar Guoqiang, Rabu (09/09/2026).
Sales Director PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, menjelaskan lebih lanjut bahwa kerusakan ban seperti sobek, tertusuk, dan gangguan tak terencana dapat meningkatkan biaya sekaligus menekan produktivitas.
“Di lapangan, pemilik armada menghadapi tantangan mulai dari lumpur pekat hingga batuan tajam yang berisiko memicu unplanned downtime,” ucapnya.
Menurut Eko, mengingat biaya ban dapat mencapai 15% hingga 20% dari total biaya operasional kendaraan, faktor ketahanan, traksi, dan umur pakai menjadi pertimbangan penting bagi kontraktor maupun pengelola armada.
Dalam ajang tersebut, Sailun juga memperkenalkan Terramax M/T 2 yang diproduksi di Indonesia. Ban tipe mud-terrain ini ditujukan untuk kendaraan komersial ringan dan kendaraan pendukung 4×4, terutama yang beroperasi di area berbatu dan berlumpur.
Perusahaan menyebut produk tersebut menggunakan desain tapak terbuka dan konstruksi karkas yang diperkuat. Desain ini membantu pembuangan lumpur dan kerikil, serta meningkatkan ketahanan terhadap tusukan dan abrasi.
Bagi industri pertambangan, kebutuhan ban tidak hanya terkait kemampuan teknis, tetapi juga perhitungan total biaya siklus hidup. Semakin rendah frekuensi kerusakan dan waktu henti kendaraan, semakin besar peluang perusahaan menjaga utilisasi armada dan efisiensi operasional.
Dengan karakter medan tambang dan perkebunan yang berat, persaingan di segmen ban industri pun semakin bergeser ke kemampuan produsen menawarkan kombinasi antara daya tahan, keselamatan, dan efisiensi biaya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.