— JAKARTA – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) memaparkan strategi yang diterapkan perseroan untuk mempertahankan penjualan dan bersaing dalam hal harga di pasar semen yang kian kompetitif.

Direktur Sales dan Marketing SMGR, Dicky Saelan, mengakui bahwa bisnis semen memang penuh tantangan. Namun, perusahaan telah merancang dan menerapkan beberapa strategi yang menunjukkan hasil positif.

Memperkuat Ekuitas Merek

Strategi pertama yang diungkap Dicky adalah penguatan ekuitas merek. Perseroan terus berupaya memperkuat citra positif dari seluruh merek yang dimiliki, seperti Semen Andalas di Aceh, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Dynamix, Semen Kujang yang baru diluncurkan, serta Semen Gresik dan Semen Tonasa.

“Kalau kita lihat hampir semua brand kita memiliki kedekatan kultural yang sangat erat, baik itu di semen Andalas, di Aceh, semen Padang, semen Baturaja, kemudian di semen Dynamix, dan kemudian semen Kujang yang baru kita luncurkan, semen Gresik dan semen Tonasa. Nah ini akan terus menjadi salah satu strategi kami untuk terus memperkuat brand tersebut,” ujar Dicky dalam acara Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).

Strategi Multi-Merek Hadapi Kompetitor

Menghadapi gempuran pesaing yang memberikan tekanan kuat pada harga, SMGR menerapkan strategi multi-merek. Dicky menjelaskan bahwa di setiap segmen pasar, perseroan memiliki produk dan merek tersendiri untuk melawan kompetitor.

“Dalam kondisi hal tersebut kami berusaha untuk melakukan multi-brand strategi. Di mana di masing-masing segmen kami memiliki produk dan brand yang kami pakai untuk melawan kompetitor. Tapi pada saat yang sama kami juga tidak terjebak ke dalam persaingan harga saja. Jadi ini yang kami ingin memastikan bahwa kami tetap kompetitif, tapi pada saat yang sama kami juga tetap bisa mempertahankan bisnis yang sehat,” jelasnya.

Memastikan Ketersediaan Produk

Strategi ketiga berfokus pada ketersediaan produk. SMGR memastikan pasokan produk semen tersedia baik di toko-toko bangunan pada tingkat ritel maupun di lokasi proyek-proyek konstruksi.

Menjaga Kedekatan dengan Konsumen

Terakhir, perseroan berupaya untuk selalu dekat dengan konsumen, baik itu para tukang bangunan maupun pemilik toko. Hal ini dilakukan melalui program advokasi yang diberikan oleh SMGR.

“Jadi keempat hal tersebut yang kami lakukan dalam berusaha untuk terus bisa menjaga kompetitif kami dan memperkuat posisi kami di pasar,” tambah Dicky.

Berdasarkan laporan keuangan interim perseroan, pendapatan SMGR pada semester I-2026 mencapai sekitar Rp 17,65 triliun, tumbuh 13,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 471% menjadi sekitar Rp 228,26 miliar pada semester I-2026 dari Rp 39,98 miliar pada semester I-2025. Laba kotor juga tercatat meningkat 21,1% menjadi Rp 3,8 triliun.