— JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengumumkan bahwa proses normalisasi persediaan di tingkat distributor telah selesai pada Mei 2026. Dengan rampungnya langkah ini, perusahaan kini mengandalkan pemulihan permintaan konsumen akhir untuk mendorong kinerja pada paruh kedua tahun ini.

Direktur, Chief Financial Officer (CFO), sekaligus Sekretaris Perusahaan Sido Muncul, Budiyanto, menjelaskan bahwa normalisasi persediaan yang berlangsung selama empat bulan, mulai Februari hingga Mei 2026, dilakukan setelah menemukan adanya sejumlah distributor dengan tingkat persediaan di atas level sehat.

“Normalisasi Sido dijalankan empat bulan sejak Februari hingga Mei. Saat ini sudah selesai normalisasi tersebut,” ujar Budiyanto dalam Public Expose Live, Rabu (9/9/2026).

Normalisasi tersebut berdampak signifikan terhadap kinerja penjualan perseroan pada semester I-2026, dengan catatan sekitar Rp 1,5 triliun, atau turun 20% secara tahunan. Namun, manajemen menekankan bahwa penurunan ini terjadi pada sell-in (penjualan dari pabrik ke distributor), bukan karena melemahnya permintaan konsumen akhir.

Budiyanto menambahkan, sistem visibilitas data perusahaan memungkinkan pemantauan pergerakan produk dari pabrik hingga konsumen akhir. Pemantauan ini mengidentifikasi kelebihan stok di sejumlah distributor yang dapat menyita ruang rak untuk produk baru yang menjanjikan, seperti C Plus Collagen.

“Kalau stok terlalu banyak di level distributor, itu juga akan menyita space rak yang tersedia untuk produk-produk baru kami yang kami rasa cukup menjanjikan, antara lain C Plus Collagen dan lainnya,” jelas dia. Oleh karena itu, perseroan memilih menurunkan persediaan distributor ke tingkat yang lebih sehat sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi produk-produk baru.

Budiyanto menegaskan, kondisi ini berbeda dengan penjualan sell-out (distributor ke konsumen akhir) yang masih stabil, menunjukkan permintaan produk Sido Muncul tetap terjaga. Hal ini juga tercermin dari posisi Sido Muncul sebagai pemimpin pasar produk herbal di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 71% pada semester I-2026.

Sell-out ini stabil dan tidak ada penurunan, sehingga demand dari end consumer tetap stabil,” kata Budiyanto.

Kondisi ini menjadi modal bagi perseroan untuk memasuki semester II dengan pola distribusi yang lebih berbasis permintaan konsumen. Dengan selesainya normalisasi stok, manajemen berharap permintaan dari konsumen akhir kembali menarik persediaan di distributor dan meningkatkan penjualan dari pabrik.

“Mulai kuartal III, permintaan sudah beralih ke model distribusi yang berbasis permintaan dari end consumer. Jadi permintaan end consumer akan menarik stok di distributor dan akan menarik penjualan dari prinsipal atau pabrik ke distributor,” jelasnya.

Meskipun demikian, Sido Muncul tidak memperkirakan kinerja semester II dapat menyamai periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan memperkirakan penjualan sepanjang 2026 masih turun sekitar 10% dibandingkan 2025, akibat dampak normalisasi persediaan pada awal tahun.

Normalisasi stok turut memberikan tekanan terhadap profitabilitas Sido Muncul. Pada semester I-2026, laba usaha turun 43% dan laba bersih merosot 44%. Namun, perseroan mampu mempertahankan margin pada level yang relatif tinggi, dengan margin laba kotor 51%, laba usaha 29%, dan laba bersih 23%.

Penurunan laba terutama berasal dari melemahnya volume penjualan segmen herbal sebesar 41% akibat normalisasi persediaan. Sementara itu, segmen makanan dan minuman tumbuh 11% dan farmasi meningkat 7%. Perubahan bauran produk ini memengaruhi margin, dengan margin kotor segmen herbal turun menjadi 60%, makanan dan minuman di 43%, dan farmasi meningkat menjadi 37%.

Di tengah tekanan penjualan, Sido Muncul meningkatkan belanja iklan dan promosi sebesar 12%, mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk kanal ritel modern serta pengembangan pasar ekspor, khususnya Malaysia dan Filipina.

Ekspor Tunjukkan Pertumbuhan Positif

Di luar tekanan pasar domestik, bisnis ekspor Sido Muncul menunjukkan perkembangan positif. Penjualan ekspor pada semester I-2026 tumbuh 28% secara tahunan dan kini menyumbang sekitar 13% terhadap total penjualan.

Perseroan telah memasarkan produknya ke 34 negara, dengan Malaysia, Filipina, dan Nigeria sebagai pasar utama. Kontribusi ekspor meningkat signifikan dari sekitar 5% total penjualan tiga tahun lalu menjadi 13% saat ini.

Sido Muncul juga mengeksplorasi ekspansi ke kawasan Indochina yang diharapkan terealisasi pada 2026. Budiyanto menyatakan pelemahan rupiah tidak menjadi tekanan besar karena sebagian besar bahan baku berasal dari dalam negeri. Bahkan, kenaikan kontribusi ekspor memberikan dampak positif terhadap keuntungan selisih kurs.

“Untuk herbal, bahan baku kami 100% lokal. Justru dengan pelemahan rupiah ini meningkatkan keuntungan selisih kurs karena penjualan ekspor kami sudah mencapai 13% dari penjualan,” ungkapnya.

Capex dan Inovasi Produk

Dengan utilisasi kapasitas produksi yang masih berkisar 50-55%, Sido Muncul belum melihat kebutuhan ekspansi kapasitas signifikan. Perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 sebesar Rp120-150 miliar, namun realisasi hingga semester I-2026 baru mencapai sekitar Rp24 miliar.

Capex ini terutama digunakan untuk pemeliharaan mesin dan peningkatan efisiensi, bukan pembangunan fasilitas baru. “Tidak ada capex yang signifikan untuk penambahan mesin atau kapasitas produksi baru. Karena saat ini masih mencukupi utilisasi di sekitar level 50 sampai 55%,” kata Budiyanto.

Ke depan, investasi akan diarahkan pada efisiensi manufaktur, digitalisasi rantai pasok, penguatan distribusi, inovasi produk, serta ekspansi ekspor. Sido Muncul juga menyiapkan sejumlah produk baru pada semester II-2026, termasuk varian baru Tolak Angin yang telah tersedia di pasar.

Dengan normalisasi persediaan yang telah selesai, perseroan berharap pemulihan sell-in dapat mengikuti permintaan konsumen akhir pada kuartal III dan IV.