Jurnal Indonesia — Barcelona – Lamine Yamal boleh saja merayakan gelar juara Piala Dunia 2026 bersama tim nasional Spanyol. Namun, di balik euforia kemenangan tersebut, terselip rasa sesal yang mendalam bagi sang pemain muda.
Yamal menjadi bagian penting dari skuad La Furia Roja yang berhasil mengukir sejarah sebagai juara dunia untuk kedua kalinya. Kemenangan ini diraih setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 di partai puncak. Gelar Piala Dunia ini melengkapi raihan trofi Yamal bersama timnas Spanyol, setelah sebelumnya ia juga sukses menjuarai Euro 2024.
Berbeda dengan kiprahnya di Euro 2024 di mana ia bersinar sebagai bintang dan meraih penghargaan pemain muda terbaik, performa Yamal di Piala Dunia kali ini dinilai tidak seimpresif biasanya. Meskipun tampil di setiap pertandingan Spanyol sejak fase grup, kontribusinya hanya berupa satu gol dan satu assist.
Cedera paha yang dialaminya dua bulan sebelum turnamen menjadi biang keladi di balik penampilannya yang dinilai kurang optimal. Yamal mengaku terpaksa bermain lebih hati-hati untuk menghindari kambuhnya cedera, sebuah pilihan yang membuatnya merasa frustrasi.
“Saya tidak senang setelah menjuarai Piala Dunia. Saya rasa cedera jadi faktornya, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa soal itu, karena saya tahu jika Piala Dunia datang di waktu berbeda, saya tentu akan tampil begitu juga karena saya baru balik dari cedera,” ujar Yamal seperti dikutip Tribuna.
Yamal menambahkan bahwa ia merasa perannya dalam menarik perhatian banyak pemain lawan di lapangan sudah luar biasa. “Saya rasa hal itu yang tidak dilihat orang-orang, ketika saya punya peran untuk menarik banyak lawan. Itu luar biasa kok,” tuturnya.
Namun, Yamal tetap merasa belum puas dengan pencapaian individu di turnamen akbar tersebut. “Tapi saya tidak puas dengan performa saya karena saya tahu pemain lain pasti puas jika tampil seperti saya di Piala Dunia lalu. Tapi, kalau sih saya belum puas,” imbuhnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.