— JAKARTA – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) memproyeksikan kinerja yang solid hingga akhir 2026, dengan target pertumbuhan pendapatan mencapai sekitar 60% secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi ini ditopang oleh pengakuan penjualan lahan di Subang Smartpolitan yang kuat serta pemulihan signifikan dalam bisnis perhotelan.

Optimisme ini disampaikan manajemen SSIA dalam agenda Public Expose Live 2026, yang memaparkan perkembangan bisnis, strategi, dan prospek kinerja perusahaan.

Presiden Direktur SSIA, Johannes Suriadjaja, menyatakan bahwa pengembangan kawasan industri Subang Smartpolitan terus menunjukkan prospek positif di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Minat investor terhadap kawasan tersebut tetap tinggi.

“Di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global, kami bersyukur SSIA masih mendapatkan kepercayaan dari investor global sebagai salah satu tujuan investasi mereka. Kami terus mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan agar Subang Smartpolitan tidak hanya menjadi rumah bagi industri manufaktur, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi, pusat inovasi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia,” ujar Johannes dalam paparannya, Senin (7/9/2026).

Kinerja semester I-2026 menjadi dasar optimisme tersebut. SSIA berhasil membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 3,35 triliun, melonjak 58,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen properti, seiring meningkatnya pengakuan penjualan lahan industri.

Laba bruto perseroan mencapai Rp 1,09 triliun, sementara laba bersih tercatat Rp 262,6 miliar. Capaian ini berbalik positif dibandingkan semester I-2025 yang masih mencatatkan rugi bersih sekitar Rp 32,3 miliar. Hal ini menunjukkan efektivitas strategi SSIA dalam mengandalkan kawasan industri sebagai sumber pertumbuhan.

Pada semester I-2026, segmen properti membukukan pendapatan Rp 1,27 triliun, tumbuh 274,1% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh pengakuan penjualan lahan seluas 64,7 hektare dengan nilai sekitar Rp 1,08 triliun dari dua kawasan industri utama SSIA, yaitu Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.

Meskipun demikian, SSIA masih menghadapi tantangan dari sisi marketing sales. Pada semester I-2026, PT Suryacipta Swadaya (SCS), anak usaha yang mengelola kawasan industri, mencatat marketing sales sebesar 9,4 hektare dengan nilai Rp 195,9 miliar. Sebelumnya, perseroan menargetkan marketing sales lahan industri mencapai 135 hektare sepanjang 2026, naik sekitar 188% dari realisasi 2025 sebesar 46,8 hektare.

Dari target 135 hektare tersebut, sekitar 121 hektare diharapkan berasal dari Subang Smartpolitan dan 14 hektare dari kawasan industri Karawang. Keberhasilan SSIA mencapai target kinerja 2026 akan sangat bergantung pada kemampuannya mengonversi pipeline calon investor menjadi transaksi penjualan lahan.

Sinyal permintaan lahan industri sebenarnya masih cukup kuat. Data Agustus 2026 menunjukkan inquiry lahan industri SSIA mencapai sekitar 498 hektare, meningkat 88% dibandingkan Mei 2026. Namun, inquiry ini perlu dikonversi menjadi pre-sales dan accounting sales agar memberikan dampak nyata terhadap pendapatan.

Dari sisi pengembangan kawasan, Subang Smartpolitan memiliki posisi strategis sebagai kawasan industri terpadu yang menghubungkan pusat manufaktur dengan infrastruktur logistik dan pelabuhan. Perseroan menargetkan pembangunan akses dan infrastruktur pendukung, termasuk konektivitas menuju Pelabuhan Patimban.

SSIA berupaya tidak hanya mengandalkan penjualan lahan, tetapi juga meningkatkan nilai kawasan melalui masuknya industri bernilai tambah, pusat inovasi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan.

Segmen Hospitality Mulai Berkontribusi Positif

Selain properti, SSIA berharap segmen hospitality memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan kinerja pada 2026. Katalis utama datang dari Paradisus by Meliá Bali yang telah beroperasi penuh sejak Februari 2026. SSIA menargetkan kontribusi bisnis all-inclusive dapat mencapai sekitar 50% dari total inventori kamar yang tersedia hingga akhir tahun.

Hotel UMANA Bali, LXR Hotels & Resorts, juga menunjukkan perkembangan positif dari sisi tingkat hunian maupun rata-rata tarif kamar. Manajemen menilai pemulihan ini menjadi sinyal positif bagi bisnis hospitality yang sebelumnya tertekan. Segmen perhotelan SSIA berhasil membukukan EBITDA positif pada semester I-2026, berbalik dari EBITDA negatif pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan bisnis hotel berpotensi tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperbaiki margin dan profitabilitas konsolidasian. SSIA telah merampungkan restrukturisasi bisnis hospitality pada Desember 2025 untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan portofolio hotel.

Konstruksi Menjaga Stabilitas Pendapatan

Dari segmen konstruksi, SSIA tetap mengandalkan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) untuk mempertahankan kontribusi terhadap pendapatan konsolidasian. Manajemen optimistis NRCA dapat mencapai target pendapatan dan kontrak baru sepanjang 2026, meskipun persaingan industri konstruksi ketat dan harga material utama masih tinggi.

Untuk menjaga profitabilitas, NRCA menjalankan strategi efisiensi, termasuk pengadaan material yang terencana dan optimal. Pada semester I-2026, NRCA membukukan pendapatan konsolidasian sekitar Rp 1,70 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski pendapatan stagnan, laba bersih NRCA tumbuh 21,5% menjadi Rp 93 miliar.

Struktur pertumbuhan SSIA pada 2026 tidak hanya bertumpu pada satu lini bisnis. Segmen properti menjadi motor utama, sementara hospitality mulai memberikan kontribusi positif pasca-pemulihan dan restrukturisasi. Konstruksi diharapkan menjaga stabilitas pendapatan dan profitabilitas.

Meskipun prospek bisnis kawasan industri menjanjikan, SSIA masih menghadapi risiko dari kondisi ekonomi global. Ketegangan geopolitik sempat membuat sejumlah investor global menunda keputusan investasi langsung. Hal ini tercermin dari marketing sales SCS yang pada semester I 2026 baru mencapai 9,4 hektare, masih jauh dari target 135 hektare.

Namun, tingginya pengakuan accounting sales menunjukkan bahwa transaksi yang telah diperoleh sebelumnya masih mampu menopang pendapatan. Tantangan utama SSIA pada paruh kedua 2026 adalah menjaga momentum pengakuan pendapatan sekaligus mempercepat konversi pipeline investor menjadi marketing sales baru.

Manajemen tetap optimistis target pertumbuhan dapat dicapai dengan dukungan permintaan terhadap kawasan industri, khususnya Subang Smartpolitan. “Kami optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan dan mencapai target kinerja yang telah ditetapkan untuk 2026,” ujar Johannes.