Jurnal Indonesia — Perkembangan pesat teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) di sektor perbankan memang menawarkan kemudahan transaksi. Namun, di balik itu, muncul pula potensi ancaman siber baru yang kian canggih, seperti manipulasi deepfake dan penipuan daring. Menghadapi tantangan ini, Standard Chartered Indonesia menekankan pentingnya penerapan keamanan berlapis serta pembentukan budaya cyber resilience di kalangan nasabah korporasi.
Head of Transaction Banking Standard Chartered Bank, Jenny Tantono, menjelaskan dalam gelaran Standard Chartered Digital Day pada Selasa (8/9) bahwa ancaman manipulasi berbasis AI seperti deepfake membuat metode single verification point tidak lagi memadai.
“Di Standard Chartered, kami mengadopsi multi-layer authentication atau verification. Ketika nasabah masuk ke sistem internet banking, kami mengombinasikan unique identification, password, hingga biometrik,” ujar Jenny.
Lebih lanjut, sistem internet banking Standard Chartered telah dilengkapi dengan fraud detection system. Sistem ini mampu mendeteksi secara otomatis percobaan login berisiko tinggi atau transaksi yang terindikasi janggal. Jika terdeteksi adanya potensi ancaman, sistem akan segera mengunci atau menonaktifkan akun maupun transaksi terkait hingga verifikasi manual dapat dilakukan.
Menyadari potensi kerugian besar akibat penipuan daring, Jenny menegaskan vitalnya kolaborasi antar pemangku kepentingan. Standard Chartered Indonesia secara aktif bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat langkah pencegahan, deteksi, eskalasi, hingga penanganan dana nasabah yang terindikasi fraud.
“Dalam penanganan fraud, speed it matters. Semakin cepat kami mengidentifikasi serangan, semakin cepat kami melakukan eskalasi dan membatasi dampaknya sehingga risiko dapat ditekan,” jelasnya.
Membangun Budaya Keamanan di Nasabah Korporasi
Selain menyediakan infrastruktur teknologi mutakhir, seperti konektivitas aman host-to-host dan API banking yang dilengkapi enkripsi serta autentikasi berlapis, Standard Chartered juga berfokus membangun security culture di tingkat nasabah korporasi.
Menurut Jenny, edukasi berkelanjutan adalah kunci utama. Standard Chartered merekomendasikan tiga langkah utama bagi perusahaan dalam membangun budaya keamanan. Pertama, mengadakan simulasi serangan siber secara rutin agar karyawan memahami tindakan yang harus diambil saat menghadapi insiden nyata. Kedua, mendorong karyawan untuk tidak ragu melaporkan atau mengeskalasikan transaksi yang mencurigakan kepada manajemen senior. Ketiga, memastikan keterlibatan aktif jajaran direksi dan manajemen senior dalam memprioritaskan keamanan siber, termasuk penerapan skema reward dan penalty yang jelas.
Dari Cyber Security Menuju Cyber Resilience
Melalui inisiatif seperti Standard Chartered Digital Day, bank berupaya membantu nasabah korporasi membangun incident response framework dan recovery plan yang terstruktur.
Jenny menggarisbawahi perbedaan mendasar antara cyber security dan cyber resilience. Jika cyber security berfokus pada upaya proteksi, maka cyber resilience berfokus pada kesiapan bisnis saat serangan benar-benar terjadi.
“Tujuan kami adalah membentuk culture of cyber resilience. Bukan menciptakan kesan bahwa risiko akan hilang sepenuhnya, melainkan bagaimana bisnis bisa lebih siap. Bagaimana mendeteksi, membatasi dampak, menyelesaikan insiden, dan belajar dari kejadian tersebut untuk perbaikan berkelanjutan,” tutup Jenny.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.