— Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini berbagai stimulus perekonomian yang digelontorkan pemerintah mulai memberikan dampak positif signifikan terhadap konsumsi masyarakat. Dengan stimulus yang terus mengalir ke perekonomian, Purbaya memproyeksikan konsumsi masyarakat akan tetap berada dalam tren positif hingga akhir tahun 2026.

Pernyataan ini disampaikan Purbaya di tengah data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menunjukkan fluktuasi. Setelah mencapai angka 123 pada April 2026, IKK sempat mengalami penurunan menjadi 120,9 pada Mei, 117,8 pada Juni, dan 116,8 pada Juli 2026. Namun, keyakinan konsumen mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Agustus 2026, dengan IKK tercatat meningkat menjadi 118,5, meskipun belum kembali ke level April.

Lesunya konsumsi masyarakat dalam beberapa waktu terakhir juga tercermin dari kinerja komponen konsumsi rumah tangga yang tumbuh melambat. Pertumbuhan tercatat dari 5,52% pada triwulan I-2026 menjadi sebesar 5,06% pada triwulan II-2026.

“Sebagian stimulus yang kita berikan, kan kebijakan yang kita berikan sudah mulai terefleksi di masyarakat. Harusnya sih otomatis (konsumsi) naik lebih tinggi lagi karena stimulusnya masih ada di sistem perekonomian,” ucap Purbaya di kantor Lembaga National Single Window (LNSW), Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Sebelumnya, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 26,34 triliun untuk berbagai program stimulus ekonomi, insentif transportasi, program magang, hingga bantuan pangan pada Juni 2026. Alokasi belanja ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026.

Purbaya menambahkan, selain stimulus fiskal, langkah pemerintah mengucurkan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan juga memberikan kontribusi positif terhadap geliat aktivitas perekonomian. Pemerintah sempat melakukan penarikan dana SAL dari bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atas arahan Bank Indonesia, namun kemudian mengembalikan dana tersebut. Tindakan ini bertujuan untuk menambah likuiditas perbankan.

“Contohnya uang yang saya balikin tuh yang Rp 400 triliun. Lalu juga BLU (Badan Layanan Umum)-BLU punya pemerintah saya minta bunganya hanya 80% dari BRI sama dengan yang kita peroleh sehingga itu akan menekan bunga ke bawah,” tutur Purbaya.

Purbaya menilai tambahan likuiditas tersebut berperan dalam menekan suku bunga, yang pada gilirannya dapat mendukung aktivitas ekonomi dan memacu konsumsi masyarakat. Di sisi lain, pemerintah juga telah menyalurkan dana sebesar Rp 20,5 triliun kepada pemerintah daerah yang menghadapi kesulitan anggaran. Dana ini diharapkan dapat ikut mendorong perekonomian daerah yang sebelumnya terhambat akibat pemangkasan transfer ke daerah.

“Pak Presiden (Prabowo Subianto) memberikan tambahan bantuan ke pemerintah daerah Rp 20,5 triliun, itu kan masuk ke sistem. Nanti kita lihat ada apa lagi yang kita bisa dorong ke perekonomian,” terang Purbaya.