Jurnal Indonesia — Menyusun portofolio investasi sering kali terasa rumit dan membingungkan, terutama bagi investor pemula yang dihadapkan pada ribuan pilihan aset. Namun, investor legendaris Warren Buffett memiliki pandangan bahwa mayoritas orang tidak membutuhkan kerumitan tersebut untuk meraih kesuksesan finansial. Ia menawarkan sebuah pendekatan yang jauh lebih sederhana, dikenal sebagai aturan 90/10.
Strategi ini, sebagaimana dikutip dari FinanceBuzz Money pada Jumat (11/9/2026), melibatkan alokasi 90% dana pada reksa dana indeks S&P 500 berbiaya rendah dan 10% sisanya pada obligasi pemerintah dengan tenor pendek. Buffett pertama kali memaparkan pendekatan ini dalam surat tahunannya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 2013, saat menjelaskan wasiat pengelolaan dana yang ditinggalkan untuk istrinya.
Alokasi saham sebesar 90% memberikan akses langsung ke 500 perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dari berbagai sektor industri. Sementara itu, porsi 10% pada obligasi berfungsi sebagai komponen pengaman yang jauh lebih konservatif, memberikan stabilitas dan likuiditas.
Alasan Memilih Indeks S&P 500
Buffett meyakini bahwa hasil jangka panjang dari strategi ini mampu melampaui kinerja mayoritas investor, termasuk dana pensiun dan lembaga profesional yang menyewa manajer investasi berbiaya tinggi. Ia menekankan bahwa setiap rupiah atau dolar yang dibayarkan untuk biaya pengelolaan adalah dana yang hilang dari potensi pertumbuhan investasi majemuk.
Pendekatan reksa dana indeks S&P 500 bekerja secara pasif dengan mengikuti pergerakan perusahaan di dalam indeks, bukan mencoba menebak saham mana yang akan naik. Hal ini menghasilkan biaya pengelolaan yang sangat rendah dan frekuensi transaksi yang minim. Data kinerja pasar turut memperkuat pandangan Buffett:
- Laporan SPIVA U.S. Scorecard tahun 2025 menunjukkan 79% reksa dana saham berkapitalisasi besar yang dikelola secara aktif gagal mengalahkan kinerja indeks S&P 500.
- Dalam jangka panjang (5–10 tahun), hingga pertengahan 2025, sekitar 90,5% manajer aktif kalah dari S&P 500 dalam rentang waktu lima tahun, dan angka tersebut melonjak menjadi 94,4% dalam periode sepuluh tahun.
- Pada tahun 2026, sebanyak 73% reksa dana aktif juga gagal melampaui indeks S&P 500 untuk periode 12 bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Mencari manajer investasi yang mampu mengalahkan pasar secara konsisten dalam jangka panjang tergolong sulit. Reksa dana indeks berbiaya rendah menghilangkan risiko salah memilih pengelola dana.
Peran Krusial 10% Obligasi Pemerintah
Meskipun porsi saham mendominasi, alokasi 10% pada obligasi pemerintah jangka pendek memegang peranan krusial. Obligasi tidak terpengaruh oleh fluktuasi tajam pasar saham dengan cara yang sama. Selain memberikan kestabilan, obligasi pemerintah jangka pendek menyediakan likuiditas yang siap digunakan saat pasar mengalami gejolak. Hal ini mencegah investor terpaksa menjual saham di harga yang sedang anjlok ketika membutuhkan dana darurat.
Secara keseluruhan, pesan utama dari Warren Buffett bukanlah memaksa setiap orang meniru persis angka 90/10, melainkan menekankan pentingnya menekan biaya, melakukan diversifikasi, dan menghindari kerumitan yang tidak perlu dalam berinvestasi. Buffett, yang merupakan salah satu investor paling sukses di dunia dan CEO Berkshire Hathaway, dikenal konsisten menerapkan filosofi value investing. Ia membeli saham perusahaan berkualitas tinggi dengan fundamental kuat pada harga wajar, lalu memegangnya untuk jangka panjang.
Rekomendasi strategi 90/10 ini berakar dari keyakinan mendalam Buffett terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang serta dampak nyata biaya pengelolaan (management fee) terhadap hasil investasi ritel. Melalui rekam jejaknya selama puluhan tahun di pasar modal, Buffett ingin membuktikan bahwa masyarakat awam tidak perlu mencoba “mengalahkan pasar” untuk bisa membangun kekayaan secara aman dan berkelanjutan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.