— JAKARTA – PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) gencar melakukan ekspansi bisnis dengan mengembangkan sejumlah lini usaha baru di luar sektor perdagangan batu bara. Memasuki sisa tahun 2026, perseroan berencana mengoperasikan pabrik hidrogen peroksida (H2O2) dan menjajaki pembangunan smelter nikel di Sulawesi Selatan.

Corporate Secretary SGER, Michael Harold, menyatakan bahwa salah satu agenda terdekat adalah melakukan uji coba operasional (run test commencing) pabrik H2O2 pada 1 Oktober 2026. Pabrik ini dibangun melalui anak usaha perseroan, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), di Merak, Banten.

Pabrik H2O2 tersebut memiliki kapasitas produksi 20.000 metrik ton per tahun untuk konsentrasi 100%, atau setara dengan 40.000 metrik ton per tahun untuk konsentrasi 50%. Proyek yang dipersiapkan dengan nilai investasi sekitar US$ 50 juta ini ditargetkan menjadi salah satu fasilitas H2O2 terbesar di Indonesia.

“Dengan prospek industri yang baik, operasional pabrik ini tentunya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi SGER di masa depan,” ujar Michael dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026). Ia menambahkan bahwa hidrogen peroksida memiliki beragam penggunaan industri, meliputi sektor pulp dan kertas, tekstil, pengolahan air, hingga pertambangan. Kehadiran fasilitas ini sekaligus menjadi langkah SGER untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis perdagangan batu bara.

Selain H2O2, SGER juga mengarahkan ekspansinya ke sektor hilirisasi mineral. Melalui PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA), perseroan sedang menjajaki pengembangan pabrik pengolahan atau smelter nikel di Sulawesi Selatan. Rencana ini merupakan kelanjutan dari Perjanjian Kemitraan Strategis (Strategic Partnership Agreement) dengan PT Hengsheng New Energy Material Indonesia (Hengsheng).

“Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memperkuat hilirisasi nikel sekaligus meningkatkan nilai tambah dari komoditas mineral di dalam negeri,” jelas Michael.

Diversifikasi bisnis ini menjadi bagian penting dari strategi SGER untuk tidak hanya mengandalkan perdagangan batu bara. Dalam paparan sebelumnya, SGER juga telah menyebut pengembangan perdagangan komoditas non-batu bara seperti manganese ore dan petroleum coke sebagai upaya perluasan sumber pendapatan. Perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 10 triliun dan laba bersih sekitar Rp 500 miliar pada tahun 2026.

Lunasi Utang dan Perkuat Struktur Keuangan

Di tengah agenda ekspansi yang padat, SGER juga memfokuskan diri pada penguatan struktur keuangan. Perseroan berencana melunasi Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai Rp 270 miliar yang akan jatuh tempo pada 25 Oktober 2026.

Michael menyatakan bahwa pembayaran obligasi tersebut akan menggunakan kas internal perseroan. “SGER akan melunasi obligasi dengan menggunakan kas internal Perseroan,” terangnya.

Pelunasan kewajiban ini merupakan bagian dari pengelolaan utang perseroan sekaligus menjaga ruang pendanaan untuk menjalankan agenda bisnis yang telah disiapkan. Dari sisi kinerja keuangan, SGER membukukan pendapatan sebesar Rp 4,32 triliun pada periode yang dilaporkan, menunjukkan peningkatan 6,73% dibandingkan Rp 4,05 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan tersebut masih didominasi oleh segmen batu bara yang menyumbang Rp 3,16 triliun. Kontribusi lainnya berasal dari pendapatan pasir dan kapur sebesar Rp 495,16 miliar, kokas minyak bumi Rp 379 miliar, nikel Rp 284,29 miliar, serta produk kelapa sawit Rp 1,50 miliar.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 137,95 miliar, mengalami pertumbuhan 8,83% secara tahunan. Dengan mulai masuknya kontribusi dari H2O2 dan penjajakan smelter nikel, bisnis non-batu bara diharapkan dapat secara bertahap menjadi sumber pertumbuhan baru bagi SGER.

“Dengan rentetan aksi ekspansi dan aksi korporasi ini, kami berharap SGER dapat terus mencatatkan kinerja yang baik ke depan,” tutup Michael.