— PALANGKA RAYA – Pengelolaan tata air yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko kebakaran lahan gambut, khususnya saat memasuki musim kemarau panjang. Lahan gambut pada kondisi alaminya merupakan ekosistem yang selalu jenuh air sehingga sangat sulit terbakar. Namun, gangguan pada tata air dapat mengubah lapisan organik basah tersebut menjadi bahan bakar yang rawan terbakar.

Kepala Unit Penunjang Akademik Pengelolaan Lahan Gambut Universitas Palangka Raya (UPR) Dr. Adi Jaya menjelaskan, kerusakan tata air umumnya disebabkan oleh pembuatan saluran drainase, keberadaan kanal, pembukaan lahan secara masif, serta fenomena kemarau ekstrem. Penurunan muka air tanah menyebabkan lapisan atas gambut kehilangan kelembapan secara drastis.

Sebagai contoh, pada kemarau panjang pada 2019 di Kawasan Sebangau, muka air tanah tercatat turun hingga 1,5 meter, bahkan mencapai 2,5 meter pada kawasan yang telah dibuka untuk aktivitas pertanian. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama ratusan hingga ribuan tahun. Ketika mengering secara ekstrem, sifat fisiknya berubah menjadi hidrofobia atau menolak air, sehingga sulit dibasahi kembali.

Hal ini menyebabkan air penyiraman sering kali hanya membasahi permukaan tanpa meresap ke dalam tanah. Karakteristik ini memicu pembakaran membara di bawah permukaan tanah (smouldering combustion) yang bergerak secara tiga dimensi, ke samping dan ke bawah, mengikuti akar serta kayu lapuk. Kondisi tersebut membuat api gambut sulit dipadamkan dan berisiko memicu kobaran baru meski permukaan atas terlihat sudah padam.

Guna mencegah bencana ini, strategi yang paling efektif adalah menjaga gambut tetap basah dan menutup akses sumber api. Upaya ini meliputi pembasahan kembali (rewetting), pembuatan sekat kanal, pemantauan muka air tanah secara berkala, pemulihan vegetasi, serta pelarangan tegas terhadap pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Adi juga meluruskan persepsi keliru masyarakat mengenai penyebab alami kebakaran. Gesekan alami antar-daun kering akibat angin tidak menghasilkan energi panas yang cukup untuk memicu api. Fenomena El Nino memang memperpanjang musim kering dan menurunkan kadar air pada vegetasi, tetapi faktor tersebut hanya menciptakan kondisi rawan. Penyebab utama munculnya titik api pada kebakaran gambut di Indonesia sebagian besar tetap berasal dari aktivitas manusia.

Lahan gambut di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatra, menyimpan cadangan karbon tebal yang sangat vital bagi keseimbangan iklim global. Namun, alih fungsi lahan dan pembangunan jaringan kanal tanpa perhitungan ekologis selama beberapa dekade terakhir telah mengeringkan kubah-kubah gambut secara masif. Ketika musim kemarau dan fenomena El Nino tiba, lahan gambut yang terdegradasi berubah menjadi kawasan rawan terbakar. Dampaknya tidak hanya menimbulkan krisis asap lintas batas dan gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.