Jurnal Indonesia — JAKARTA – Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), Dian Siswarini, memberikan tanggapan mengenai isu konsolidasi di sektor menara telekomunikasi. Isu ini hangat diperbincangkan terkait potensi merger antara anak usaha Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, dengan emiten menara dari Grup Saratoga, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Dian menilai bahwa konsolidasi dalam industri menara merupakan sebuah fase yang alami, serupa dengan yang telah terjadi pada industri telekomunikasi atau operator seluler sebelumnya. Konsolidasi semacam ini bertujuan untuk mematangkan dan menyehatkan industri, terutama pada sektor-sektor yang membutuhkan modal intensif tinggi dan memiliki investasi jangka panjang.
“Jadi, proses konsolidasi di dalam industri itu bisa mendorong terjadinya efisiensi yang lebih tinggi sekaligus membuka peluang kolaborasi atau kerja sama yang mempercepat pemerataan akses digital,” ujar Dian dalam sebuah konferensi pers virtual pada Senin (7/9/2026).
Siap Beradaptasi dengan Peluang Industri Menara
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa Telkom Group, melalui Mitratel, menyatakan kesiapannya untuk beradaptasi dan terbuka terhadap setiap peluang yang dapat memperbaiki lanskap industri menara. Fokus utama tetap pada penguatan bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang, tidak hanya untuk Mitratel tetapi juga bagi Telkom Group secara keseluruhan.
Isu merger antara MTEL dan TBIG memang kembali mengemuka belakangan ini. Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, jika merger ini terwujud, perusahaan hasil penggabungan akan mengelola sekitar 65.800 menara telekomunikasi dengan 106 ribu penyewa (tenant), menghasilkan rasio tenancy ratio sebesar 1,61 kali. Perkiraan EBITDA tahunan perusahaan merger mencapai Rp13,7 triliun, dengan potensi peningkatan margin hingga 100 basis poin menjadi 83,9%. Total ekuitas gabungan MTEL dan TBIG diproyeksikan mencapai Rp69,6 triliun.
Dalam skenario ini, dengan kepemilikan Telkom saat ini sebesar 71,8% di MTEL, porsinya di perusahaan gabungan akan setara dengan 37,9% saham. Sementara itu, kepemilikan Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA) di TBIG sebesar 81,3% akan setara dengan 38,4% di perusahaan gabungan. Hal ini menjadikan BDIA sebagai pemegang saham pengendali utama. Namun, Mirae memprediksi Mitratel akan tetap menjadi entitas hasil merger karena statusnya sebagai anak BUMN dan memiliki keterkaitan dengan Danantara, dengan perkiraan Telkom memegang 51% saham di perusahaan gabungan tersebut.
Mirae memperkirakan MTEL akan menerbitkan saham baru untuk menyerap total ekuitas TBIG senilai Rp32,9 triliun. Danantara dan TLKM diprediksi akan menyerap 42,3 miliar saham senilai Rp18,6 triliun untuk mencapai kepemilikan mayoritas 51% di perusahaan hasil merger.
Konsolidasi Operator Seluler Dorong Profitabilitas
Beralih ke sektor operator seluler yang kini menyisakan tiga pemain utama, Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menyatakan pandangan positif terhadap konsolidasi tersebut.
“Kami memiliki view positif terhadap konsolidasi (operator seluler) dengan sizeable market yang dimiliki seluruh operator seluler akan mendorong operator seluler untuk semakin rasional,” ujar Budi.
Budi menambahkan bahwa konsolidasi operator seluler juga mendorong para pemain untuk lebih fokus pada profitabilitas dan pertumbuhan skala bisnis. Oleh karena itu, Telkom meyakini konsolidasi di tingkat operator seluler dapat menciptakan kompetisi yang lebih sehat dan pertumbuhan industri yang lebih berkelanjutan. Ia percaya, ke depannya inisiatif terkait simplifikasi produk pada starter pack maupun renewal akan turut menstabilkan industri, meskipun kondisi makroekonomi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.