— PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akan melepas kendali atas bisnis pusat data (data center) yang dijalankan oleh entitas usahanya, PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC, kepada calon mitra strategis. Langkah ini diambil untuk mempercepat pertumbuhan skala bisnis tanpa harus menanggung beban permodalan secara penuh.

Skema kemitraan strategis dipilih sebagai solusi untuk membuka nilai (unlocking value) dari platform data center yang dikenal padat modal (capital intensive). Struktur permodalan Telkom saat ini mayoritas telah dialokasikan untuk bisnis inti, baik yang melayani pelanggan perorangan (B2C) maupun korporasi (B2B).

Sepanjang semester I-2026, Telkom telah menghabiskan lebih dari 94% belanja modal (capex) untuk infrastruktur telekomunikasi. Alokasi modal ini akan terus difokuskan pada area-area yang menjadi sumber pertumbuhan utama perseroan.

Meskipun bisnis data center dipersiapkan sebagai mesin pertumbuhan masa depan, Telkom mengakui kebutuhan investasinya sangat besar. Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa kemitraan strategis diharapkan membawa kapabilitas operasional, akses pasar global, khususnya dari para penyedia layanan cloud (hyperscaler), serta mempercepat pembangunan dan utilisasi kapasitas yang ada.

“Proses kemitraan strategis saat ini telah memasuki tahap evaluasi penawaran mengikat (binding offer) dan dapat melibatkan pelepasan mayoritas kepemilikan dengan target penyelesaian pada akhir 2026,” ujar Budi dalam paparan publik virtual, Senin (7/9/2026).

Binding offer merupakan komitmen resmi secara hukum dari calon investor untuk membeli aset atau saham berdasarkan harga dan syarat yang telah ditentukan. Penawaran ini menciptakan perikatan hukum yang sah dengan nilai harga dan waktu yang definitif.

Budi berharap, dengan melepas kepemilikan mayoritas kepada mitra strategis, bisnis data center Telkom dapat berkembang lebih cepat tanpa harus membiayai seluruh kebutuhan ekspansinya. Hal ini memungkinkan Telkom tetap berinvestasi secara disiplin pada bisnis inti dan potensi peningkatan pengembalian bagi pemegang saham (shareholder return).

“Dengan masuknya mitra strategis, kebutuhan modal untuk pengembangan bisnis dapat dibagi. Hal ini sekaligus membuka peluang untuk mendapatkan valuasi lebih optimal dan hasil transaksi akan meningkatkan fleksibilitas alokasi modal Telkom baik untuk investasi pada bisnis inti maupun potensi tambahan untuk shareholder return,” tutur Budi.

Manajemen Telkom belum merinci struktur kepemilikan dan nilai divestasi NeutraDC. Namun, berdasarkan data pelaku pasar, mitra strategis diperkirakan akan menggenggam 70% saham NeutraDC dengan nilai transaksi sekitar US$1,5 miliar. “Angka tersebut merupakan kajian atau estimasi dari pihak eksternal dan bukan merupakan kajian resmi dari kami,” tegas Budi.

Target Operasi Data Center

Direktur Enterprise & Business Service Telkom Indonesia, Veranita Yosephine, menambahkan bahwa Telkom Group saat ini mengoperasikan 35 data center, baik hyperscale maupun edge data center. Kapasitas ini akan terus dikembangkan untuk menangkap peluang di pasar regional, termasuk pengembangan data center di Batam yang diharapkan memperkuat keterhubungan ekosistem digital Batam-Singapura.

Telkom memiliki total kapasitas 49,9 megawatt (MW) plus lebih dari 3 ribu rak. Basis pelanggannya terdiversifikasi, mulai dari global cloud providers, institusi keuangan, perusahaan teknologi, hingga pelanggan enterprises. Kapasitas efektif saat ini sebesar 15,5 MW dengan tingkat okupansi 96% dan telah fully leased, termasuk kapasitas yang masih dalam pengembangan.

Data center di Singapura telah mencapai okupansi 90%. Sementara itu, Batam Data Center yang berkapasitas awal 6 MW ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. “Ke depan, kami terus menambah kapasitas secara disiplin. Tahap I akan mencapai 21,5 MW dan tahap II direncanakan mulai 2027. Di Batam, kapasitas tahap I ditargetkan mencapai 18 MW pada 2027,” papar Veranita.

Langkah Strategis untuk Pertumbuhan

Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai keputusan TLKM mendivestasi sebagian kepemilikannya di NeutraDC merupakan langkah tepat untuk membuka nilai (unlock value) sambil tetap memperoleh manfaat dari pertumbuhan bisnis data center.

Bisnis data center sejalan dengan tren global terkait booming infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan tingginya permintaan akibat masifnya kebutuhan komputasi untuk AI workload. Sektor ini memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bisnis seluler yang menghadapi tekanan kompetisi dan regulasi.

“Telkom sudah mempunyai infrastruktur aset dasar seperti fiber, menara, dan real estate yang relevan sebagai fondasi data center karena memiliki hubungan alamiah daripada Telkom harus mendiversifikasi ke bisnis yang sama sekali tidak berhubungan,” ujar Wafi.

Wafi menambahkan, meskipun Telkom tidak lagi menjadi pengendali NeutraDC, bisnis data center tetap bisa menjadi mesin pertumbuhan. Modal jumbo diperlukan untuk meningkatkan skala bisnis data center secara agresif, sehingga Telkom membutuhkan mitra yang membawa modal dan keahlian. Telkom sendiri mungkin tidak memiliki cukup sumber daya untuk menangkap peluang secepat yang dibutuhkan.

“Logika kedua, meski kepemilikan mayoritas dilepas, Telkom akan tetap mendapat nilai melalui dividen minoritas dan keuntungan strategis lainnya. Ketiga, strategi ini konsisten dengan Telkom 30 dan streamlining, melepas kendali operasional tapi tetap dapat nilai via kemitraan strategis daripada harus mengontrol semua bisnis,” tandasnya.