— PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), salah satu emiten portofolio Grup Djarum, diproyeksikan memiliki prospek cerah hingga 2026 berkat tiga mesin pertumbuhan yang bergerak serentak. Ketiga pilar tersebut meliputi pengembangan kawasan industri Subang Smartpolitan, pemulihan bisnis perhotelan, serta akselerasi pendapatan dan laba perusahaan.

Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, menilai momentum pengembangan Subang Smartpolitan semakin meyakinkan. Hal ini didukung oleh masuknya investor besar seperti BYD dan perbaikan infrastruktur pendukung kawasan tersebut. Bersamaan dengan itu, pemulihan bisnis perhotelan melalui Paradisus by Melia Bali menunjukkan tren positif, sementara kinerja keuangan konsolidasian SSIA mengalami peningkatan signifikan pada paruh pertama 2026.

Untuk mendukung ekspansi ini, SSIA menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2,2 triliun pada tahun ini. Alokasi terbesar, yaitu Rp 1,5 triliun, ditujukan untuk akuisisi dan pengembangan Subang Smartpolitan. Sementara itu, Rp 330 miliar dialokasikan untuk melanjutkan proses rebranding Paradisus by Melia Bali.

Hingga semester I-2026, realisasi capex telah mencapai Rp 1,1 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 330 miliar digunakan untuk pengembangan Subang Smartpolitan, Rp 200 miliar untuk PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), dan sisanya untuk pengembangan hotel lainnya.

SSIA berhasil mencatat pendapatan konsolidasian sebesar Rp 3,3 triliun pada semester I-2026, yang menunjukkan pertumbuhan 58,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan mencapai Rp 262,6 miliar, dengan laba bruto tercatat sebesar Rp 1,08 triliun.

Dari sisi profitabilitas, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai Rp 692,5 miliar dengan margin sebesar 20,7%.

Jason Gozali menjelaskan, “Perseroan memang menyesuaikan target pendapatan 2026 menjadi Rp 7,2 triliun akibat penundaan penjualan dan peralihan kontrak di Nusa Raya Cipta. Meski demikian, target tersebut masih mencerminkan pertumbuhan 63% secara tahunan, sedangkan target laba bersih tetap Rp 400 miliar atau meningkat 570%.” Pernyataan ini disampaikan Jason di Jakarta pada Selasa (8/9/2026).

Di kawasan Subang Smartpolitan, pra-penjualan lahan industri baru telah mencapai 10 hektare (ha) pada semester I-2026. SSIA tetap mempertahankan target pra-penjualan seluas 135 ha, yang didukung oleh tambahan 14 ha yang sudah terbukukan dan potensi transaksi berskala besar.

Terdapat pula pipeline lahan sekitar 35 ha yang berasal dari calon tenant di sektor serat optik, garmen, elektronik, dan alat berat. Kehadiran BYD diperkirakan dapat memperkuat ekosistem otomotif serta meningkatkan permintaan lahan bagi produsen kendaraan dan komponen.

Sementara itu, tingkat okupansi Paradisus by Melia Bali mencapai 44% pada semester I-2026 setelah kembali dibuka pada Februari. Tingkat hunian ini kemudian meningkat pesat menjadi sekitar 80% pada periode Juli-Agustus. Pendapatan perhotelan melonjak 113% secara tahunan, dan EBITDA hotel kembali mencatatkan angka positif.

Rekomendasi Saham SSIA dan Target Harga

Pluang Maju Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham SSIA dengan target harga yang terbilang tinggi, yaitu Rp 2.400 dalam horizon 12 bulan ke depan.

Rekomendasi positif ini didasarkan pada penguatan momentum Subang Smartpolitan, pemulihan bisnis hotel yang tercermin dari peningkatan okupansi dan EBITDA, serta pertumbuhan pendapatan dan laba yang solid pada semester I-2026.

Katalis positif berikutnya yang diharapkan dapat mendorong pergerakan saham SSIA mencakup realisasi transaksi lahan industri berskala besar, keberlanjutan kenaikan okupansi hotel, penyelesaian proyek jalan tol dan ekspansi Pelabuhan Patimban, serta masuknya tenant baru di ekosistem otomotif Subang.

Namun, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai, antara lain potensi keterlambatan pra-penjualan lahan dari target yang ditetapkan, ketergantungan pada tenant besar untuk membangun efek jaringan otomotif, serta gangguan berkelanjutan pada bisnis konstruksi Nusa Raya Cipta akibat proses peralihan kontrak.