— Jakarta – Indonesia berhasil meraih gelar juara dunia dalam kontes unik Wood Cup 2026, sebuah kompetisi voting yang mencari tongkat kayu paling unik di dunia. Ajang ini digelar untuk menyambut kemeriahan Piala Dunia 2026.

Perwakilan Indonesia, Aisyah Chustiya, berhasil menyabet juara pertama dengan tongkat yang dijuluki ‘Maui Hook’. Kemenangannya mengalahkan peserta dari negara-negara kuat seperti Norwegia, Brasil, Portugal, dan Taiwan.

Kepada detikINET, mahasiswi Universitas Diponegoro ini menceritakan awal mula ketertarikannya pada Wood Cup yang diselenggarakan oleh @officialstickreviews. Ajang Wood Cup 2026 sengaja diadakan bersamaan dengan Piala Dunia 2026 untuk memanfaatkan momentum kemeriahan pesta bola dunia.

Meski bukan acara resmi yang berkaitan dengan Piala Dunia dan Wood Cup merupakan plesetan dari World Cup, sebagian pesertanya berasal dari negara yang juga berlaga di Piala Dunia 2026. Hal ini menambah keseruan kompetisi.

“Aku pertama kali tahu itu udah agak lama, pas salah satu videonya muncul di explore aku. Karena aku juga suka hal iseng dan random, aku follow, deh,” ujarnya melalui pesan singkat pada Rabu (22/7/2026).

Chustiya menjelaskan bahwa ia tidak perlu mendaftar secara khusus untuk mengikuti kompetisi ini. Ia hanya perlu mengunggah story di Instagram sambil menandai akun @officialstickreviews. Setelah admin tertarik, Chustiya kemudian mengirimkan videonya. Video tersebut diunggah di Reels dan mendapatkan banyak respons positif.

“Nggak tahunya juga banyak yang suka di komen. Kemungkinan juga karena yang paling viral dibanding punya Indonesia yang lain, makanya dimasukin kompetisi tahunannya,” terang Chustiya, yang juga dikenal sebagai Mbak Kreatif UNDIP 2025.

Asal Usul Tongkat Maui

Tongkat Maui, atau lebih tepatnya Kait Maui (Maui Hook), adalah julukan yang diberikan oleh para pengikut @officialstickreviews untuk tongkat milik Chustiya. Bentuknya yang sangat unik menimbulkan rasa penasaran apakah tongkat tersebut didesain khusus.

Namun, Chustiya mengaku menemukan tongkat itu secara alami di sebuah pantai. “Aku nemunya di Pantai Cipta Semarang, deket rumah, pas aku main pulang kerja. Nggak ada designer-nya,” tuturnya.

Chustiya mengakui bahwa tongkat itu memiliki bentuk yang sangat khas. Beberapa netizen menyamakannya dengan hook Pudge DOTA 2, senjata milik Maui dalam film Moana, bahkan ada yang melihatnya menyerupai kepala bebek.

“Semua itu pure 100% by nature, mungkin hanyut terbawa arus laut sampai terdampar di pantai,” ucapnya.

Indonesia Jadi Juara Dunia Wood Cup

Wood Cup memang dirancang sebagai kompetisi yang bersifat menghibur. Chustiya menyebutkan bahwa komunitas tongkat ini sangat positif dan kreatif.

Setiap tongkat diberikan deskripsi dan rating, yang membuatnya semakin menarik. Sistem voting yang diterapkan juga menambah kesenangan dalam kompetisi ini.

“Aku juga agak gimana gitu sih karena sistemnya vote. At first, orang-orang memang banyak yang suka karena bentuk dan keunikannya, tapi lama-lama jadi banyak yang vote karena nationality. Nggak masalah juga sih, orang Indonesia juga jadi pada senang bisa berpartisipasi bawa nama negara ke kancah internasional,” ungkapnya.

Di babak final, Chustiya harus bersaing dengan tongkat dari Norwegia yang juga memiliki bentuk seperti kait namun dengan gagang yang lebih panjang. Meskipun keduanya sama-sama menarik, para pemilih memberikan perhatian lebih pada tongkat dari Norwegia yang memiliki potongan rapi di bagian lengkungnya, dinilai kurang alami dibandingkan tongkat milik Chustiya.

Chustiya mengaku sangat senang dengan kekompakan warga Indonesia yang memberikan dukungan pada tongkat Maui, sehingga berhasil menjuarai Wood Cup.

“Aku juga seneng banget dan bangga sama antusias netizen yang solid banget dipersatukan sama sebatang kayu, we are stick together,” tutupnya.