— JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah memasuki tahapan krusial dalam transformasi bisnisnya. Tiga megaproyek hilirisasi nikel yang difokuskan untuk memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) kini semakin mendekati tahap produksi. Dengan total investasi mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp126,25 triliun, inisiatif ini diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi Vale Indonesia sekaligus memperluas portofolio bisnisnya di luar nikel matte.

Ketiga proyek strategis tersebut meliputi Indonesia Growth Project (IGP) Morowali di Sulawesi Tengah dengan investasi US$1,9 miliar, IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara senilai US$3,2 miliar, dan IGP Sorowako di Sulawesi Selatan yang membutuhkan investasi US$2,1 miliar. Perkembangan terbaru menunjukkan progres signifikan, di mana proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Pomalaa telah mencapai 83%, diikuti Morowali sebesar 36%, dan Sorowako sebesar 19%. Targetnya, seluruh proyek ini akan rampung dan mulai beroperasi pada tahun mendatang.

“Kami menginvestasikan US$7,2 miliar untuk mendukung hilirisasi nikel di Indonesia, membuka potensi, meningkatkan operasional, dan memanfaatkan energi bersih,” ujar President Director & Chief Executive Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto dalam acara Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Detail Proyek Hilirisasi Nikel

Di IGP Morowali, PT Vale berkolaborasi dengan GEM Co., Ltd. dan EcoPro. Proyek yang mencakup tambang dan pabrik HPAL ini ditargetkan menghasilkan 5,5 juta ton saprolit dan 10,4 juta ton limonit dari area tambang. Selain itu, fasilitas HPAL akan memproduksi 60 ribu ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Operasional tambang telah dimulai sejak kuartal I-2026, sementara fasilitas HPAL telah mencapai tahap *mechanical completion*.

Sementara itu, IGP Bahodopi, yang menyerap investasi US$3,2 miliar, dikembangkan oleh PT Vale bersama Ford dan Huayou. Proyek tambang dan pabrik HPAL ini ditargetkan mampu menghasilkan 7 juta ton saprolit dan 21 juta ton limonit, serta 120 ribu ton MHP per tahun. Kegiatan pertambangan telah berjalan, namun fasilitas HPAL masih dalam tahap *mechanical completion*.

Untuk IGP Sorowako, PT Vale bermitra dengan Huayou. Proyek ini menargetkan produksi 11,5 juta ton limonit dari area tambang dan 60 ribu ton MHP per tahun dari fasilitas pengolahan. Tambang limonit sudah beroperasi, dan perseroan tengah melakukan *stockpiling* sebagai persiapan pasokan untuk HPAL.

Proyek Pomalaa Memimpin Jalur Produksi

Director & Chief Project Officer Vale Indonesia, Muhammad Asril, menyatakan bahwa proyek Pomalaa menjadi yang paling maju dan kini memasuki tahap *commissioning*. Pengujian seluruh rantai pasok, mulai dari tambang hingga fasilitas pendukung, dijadwalkan dimulai pada 15 September 2026.

“Progresnya lebih cepat. Skenario awal, *first mechanical completion* di bulan Desember, tapi alhamdulillah bisa dimajukan 2-3 bulan lebih awal, sehingga bisa *ramp up* kurang lebih 3-6 bulan, dan di tahun 2027 bisa mulai *full ramp up* dan *full production* dengan kapasitas 120 ribu ton MHP di Pomalaa,” jelas Asril.

Untuk Morowali, Asril menambahkan bahwa fase pertama tambang telah siap, dan fase kedua masih dalam pengerjaan untuk mendukung kebutuhan HPAL. Progres pembangunan HPAL sendiri telah mencapai 36%, dengan *mechanical completion* pertama ditargetkan pada akhir 2026, dilanjutkan lini 2 dan 3 pada kuartal I-2027.

Diversifikasi Pendapatan dan Prospek Jangka Panjang

Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa ketiga proyek hilirisasi tersebut akan menjadi kunci diversifikasi pendapatan Vale Indonesia. Saat ini, pendapatan utama perseroan masih bersumber dari penjualan nikel dalam bentuk *matte*.

“Jadi di 2026 mulai terlihat diversifikasi produk. Nikel *matte* tentu akan menjadi kontributor pendapatan utama, tetapi nanti mulai terlihat peningkatan skala dan juga kontribusi dari biji nikel, baik itu saprolit maupun limonit,” ungkap Bernardus.

Pada semester I-2026, penjualan bijih nikel dari Bahodopi dan Pomalaa telah mencapai 2,545 juta ton, meningkat 626% secara tahunan. Perkembangan ini menjadi landasan awal sebelum kapasitas tambang dan fasilitas pengolahan dari tiga proyek hilirisasi tersebut mencapai potensi penuhnya.

Bernardus optimistis terhadap prospek nikel dalam jangka menengah dan panjang. Meskipun diakuinya, pasar jangka pendek masih menghadapi tekanan akibat tingginya pasokan, terutama dari Indonesia. Namun, permintaan nikel diprediksi terus tumbuh dan makin terdiversifikasi. Selain untuk baterai kendaraan listrik, nikel juga berpotensi digunakan untuk industri *data center*, robotik, infrastruktur AI, energi terbarukan (*renewable energy*), ekspansi hijau (*green expansion*), dan sektor lainnya.