— PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memproyeksikan prospek permintaan nikel tetap positif dalam jangka menengah dan panjang. Proyeksi ini disampaikan di tengah tantangan lonjakan pasokan dan volatilitas harga nikel di pasar global saat ini.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengakui bahwa pertumbuhan pasokan menjadi tantangan utama yang perlu diwaspadai oleh para pelaku industri nikel. Namun, ia juga menekankan bahwa permintaan nikel diprediksi akan terus meningkat dan semakin terdiversifikasi.

“Kalau kita melihat prospek jangka menengah, kemudian jangka panjangnya nikel itu tetap positif, meskipun kalau kita lihat jangka pendek industri nikel masih akan menghadapi tekanan dari pertumbuhan supply yang sangat besar, terutama dari Indonesia dan kemudian juga volatilitas harga,” ujar Bernardus dalam acara public expose live 2026, Kamis (10/9/2026).

Bernardus menjelaskan bahwa peningkatan penetrasi baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) pada kendaraan listrik (EV) tidak serta-merta menurunkan kebutuhan nikel secara absolut. Ia menilai baterai berbasis nikel masih memegang porsi penting dalam industri kendaraan listrik.

“Walaupun penetrasi LFP semakin meningkat secara signifikan, bahkan mungkin mewakili lebih dari 55% baterai EV global, namun tidak berarti bahwa kebutuhan nikel itu akan turun secara absolut,” tegasnya.

Selain sektor kendaraan listrik, Bernardus melihat sumber permintaan nikel di masa depan akan semakin beragam. Sektor-sektor tersebut meliputi pusat data, robotika, infrastruktur kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, serta perluasan jaringan listrik.

Menanggapi hal ini, INCO menilai investasi di sektor nikel saat ini tidak hanya harus memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan pertumbuhan permintaan di tahun-tahun mendatang. Bernardus juga mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia dalam mengendalikan produksi nikel nasional.

“Kita lihat bahwa Pemerintah Republik Indonesia saat ini sudah sedang mengendalikan bagaimana menjalankan produksi nikel di Indonesia supaya harga nikel itu masih terjaga pada level yang profitable,” kata Bernardus.

Strategi Vale Indonesia

Dalam menghadapi kondisi industri tersebut, Bernardus menyatakan bahwa strategi pertumbuhan Vale melalui penyelesaian proyek-proyek pengolahan berteknologi high pressure acid leach (HPAL) tetap relevan. Pengembangan proyek HPAL ini merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP), sebuah inisiatif pertambangan berkelanjutan Vale Indonesia yang mencakup tiga wilayah operasi di Sulawesi, yaitu IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan Blok Sorowako.

Vale Indonesia mengadopsi model bisnis berbasis kemitraan yang memungkinkan perusahaan mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari sumber daya, teknologi, hingga pasar. Perusahaan juga memiliki portofolio produk yang terdiversifikasi, mencakup nickel matte hingga mixed hydroxide precipitate (MHP).

“PT Vale betul-betul memosisikan diri sebagai penambang nikel yang sustainable, yang bisa menyuplai ore yang kualitas tinggi dan mempunyai environmental footprint yang jelas,” ujar Bernardus.

Model bisnis kemitraan ini menjadi salah satu keunggulan Vale, di mana perusahaan bekerja sama dengan mitra teknologi serta mitra dari industri baterai dan otomotif. Pola kemitraan ini memperjelas rantai pasok dari hulu hingga hilir, sekaligus membantu perusahaan mengantisipasi berbagai risiko.

“Jadi dari hulu ke hilirnya itu jelas, market-nya jelas, jadi kita mengantisipasi risiko dari sisi resource-nya, dari sisi teknologinya, dari market-nya,” pungkas Bernardus.