— Indeks-indeks saham Wall Street kembali tertekan pada perdagangan Rabu (9/9/2026), memperpanjang penurunan menjadi tiga hari beruntun. Sentimen investor dibebani lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) dan harga minyak yang terus naik hingga Brent menembus US$ 101 per barel.

Mengutip dari CNBC Internasional, Dow Jones Industrial Average turun 405,41 poin (0,77%) menjadi 52.380,66. Indeks S&P 500 melemah 0,48% ke 7.636,36, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,64% menjadi 26.253,34.

Penurunan tiga indeks utama tersebut menjadi tekanan lanjutan setelah pasar kembali dibuka pascalibur Labor Day pada Senin (7/9/2026).

Kenaikan yield obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan saham. Yield obligasi AS tenor 10 tahun melonjak hingga 4,857%, level tertinggi sejak November 2023.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah tenor panjang menjadi US$ 6 miliar. Langkah tersebut menyusul pengumuman bulan lalu yang menyebut pemerintah setidaknya akan menggandakan nilai buyback surat utang.

Namun, meski nilai buyback ditingkatkan, yield justru bergerak naik karena sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan pembelian kembali akan lebih besar. Peter Boockvar dari The Boock Report mengatakan sejumlah investor memperkirakan nilai buyback dapat mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar.

Yield obligasi AS 10 tahun bahkan sempat menembus level 4,8% pada Selasa (8/9/2026), ketika lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Harga Minyak Jadi Beban

Harga minyak kembali melesat seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent, patokan minyak internasional, ditutup naik 3,36% menjadi US$ 101,21 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,25% menjadi US$ 96,05 per barel. Kedua harga tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei.

Lonjakan minyak menambah tekanan terhadap pasar saham karena berpotensi kembali mendorong inflasi dan memperumit prospek kebijakan suku bunga.

Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin mengatakan, harga minyak yang terus meningkat menjadi salah satu perhatian pasar. Menurut dia, apabila harga minyak mencapai US$ 120 per barel, level tersebut akan mulai mendapat perhatian serius dari pasar.

Di tengah tekanan tersebut, Martin menilai pasar saham masih relatif mampu bertahan. Namun, dia mengingatkan bahwa sentimen terhadap saham dan ekspektasi suku bunga tinggi sama-sama berada di level ekstrem.

“Sentimen terhadap saham berada di level ekstrem. Pada saat yang sama, sentimen terhadap suku bunga yang lebih tinggi juga berada di level ekstrem. Kedua hal tersebut tidak akan bisa bertahan bersamaan terlalu lama,” ujar Martin.

Martin menambahkan, pasar belum mengalami koreksi sejak awal tahun, meski kekhawatiran mengenai kenaikan harga minyak dan suku bunga kembali meningkat.