Jurnal Indonesia — Sebanyak 120 unit rumah di kampung adat wisata Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan mengalami kebakaran pada Sabtu malam. Peristiwa ini menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat setempat.
Kepala Desa Rambitan, Lalu Winakse, menyatakan bahwa pemadaman dilakukan secara intensif pada Sabtu malam dan pihaknya segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengevakuasi warga. “Kejadian kebakaran sekitar pukul 22.00 Wita. Saya sedang di TKP,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, Supardan, menjelaskan bahwa pihaknya telah menurunkan petugas dan mobil pemadam ke lokasi. Arus lalu lintas di Jalan Raya Sengkol-Mandalika sempat terganggu akibat upaya pemadaman. “Petugas sudah menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan pemadaman,” kata Supardan.
Petugas gabungan dari TNI-Polri, pemerintah daerah, dan warga bahu-membahu membersihkan material sisa kebakaran. Upaya pemadaman dilaporkan masih berlangsung hingga Minggu (23/8) pagi. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah, Ridwan Maruf, menambahkan bahwa mobil tangki air juga diturunkan untuk membantu proses pendinginan dan pembersihan.
Hingga Minggu pagi, petugas masih berupaya memadamkan sisa kepulan asap. “Hingga pagi hari ini petugas masih memadamkan kepulan asap sisa kebakaran. Mobil tangki air juga diturunkan untuk membantu proses pendinginan dan pembersihan material di lokasi,” jelas Ridwan Maruf.
Penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan, apakah akibat korsleting listrik atau faktor lain. Bantuan logistik kini sedang disiapkan. “Data sementara jumlah rumah yang terbakar mencapai 120 unit dan jumlah penduduk masih didata, sedangkan lokasi pengungsian tergantung hasil rapat koordinasi hari ini,” tambah Ridwan.
Salah satu warga, Amaq Imi, menceritakan bahwa kebakaran terjadi mendadak pada malam hari saat warga terlelap. Barang-barang berharga seperti kain tenun, uang, dan ponsel tidak sempat diselamatkan. “Kami berharap adanya bantuan dari pemerintah, karena tidak ada barang yang bisa diselamatkan, hanya pakaian yang saya gunakan ini saja,” tuturnya.
Rumah adat Sade sendiri memiliki konstruksi unik yang terbuat dari jerami, berdinding anyaman bambu (bedek), dan berlantai tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau serta abu jerami.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.