Jurnal Indonesia — Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan bahwa wilayahnya belum terpantau terdampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Meskipun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, di Semarang pada Senin (7/9/2029), menyatakan bahwa pihaknya bersama BPBD di 35 kabupaten/kota telah melakukan pemantauan intensif di wilayah perbatasan dengan Jawa Barat.
“Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung (abu letusan Anak Krakatau, red.) kepada masyarakat (Jawa Tengah). Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data,” kata Bergas, seperti dikutip dari Antara.
Hasil penilaian yang mencakup wilayah seperti Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas, hingga wilayah timur Jawa Tengah, menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas warga.
Setelah melakukan kajian di berbagai daerah dan analisis meteorologi, Bergas menegaskan bahwa belum ada residu abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi di Jawa Tengah.
“Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi,” ujar Bergas.
Meskipun demikian, BPBD Jateng tetap mengimbau warga untuk senantiasa waspada, termasuk dengan penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Bergas juga menginstruksikan seluruh BPBD di Jawa Tengah untuk gencar melakukan edukasi terkait antisipasi debu vulkanik maupun dampak musim kemarau.
“Kalau kita bicara di musim ini (kemarau, red.), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan bahwa pihaknya mengacu pada data dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari.
Analisis tersebut menunjukkan pergerakan angin permukaan pada ketinggian 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.
“Jadi, kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik itu diperkirakan sampai ke Jateng, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat,” terang Yoga.
Lebih lanjut, pihaknya juga telah melakukan analisis empiris melalui ‘paper test’ pada tanggal 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Hasil ‘paper test’ tersebut menyatakan negatif adanya debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pengujian serupa tidak hanya dilakukan di Semarang, tetapi juga di Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, dan Cilacap, yang seluruhnya menunjukkan hasil negatif serupa.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.