Jurnal Indonesia — Erupsi Gunung Anak Krakatau telah menimbulkan gangguan signifikan pada operasional penerbangan di kawasan Asia Tenggara. Sebaran abu vulkanik yang cukup tinggi memaksa pembatalan dan penundaan ratusan jadwal penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga Senin, 7 September 2026.
Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami periode erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB. Aktivitas erupsi ini berlangsung selama 25 jam dan baru berhenti pada Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
Tingginya konsentrasi abu vulkanik di udara membuat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengambil langkah untuk menutup sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Penutupan ini dilakukan demi menjaga keselamatan penerbangan.
Hingga Minggu pagi, tercatat total 373 penerbangan mengalami dampak dari erupsi ini. Secara spesifik di Bandara Soekarno-Hatta, sebanyak 202 penerbangan terdampak, dengan rincian 167 di antaranya harus dibatalkan. Bandara Soekarno-Hatta sendiri diketahui merupakan bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara berdasarkan kapasitas kursi maskapai yang dilayani menurut data OAG.
Dampak dari erupsi anak gunung berapi tersebut masih terasa hingga hari Senin. Beberapa maskapai internasional, seperti Singapore Airlines dan Scoot, terpaksa membatalkan rute penerbangan mereka dari dan menuju Singapura–Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 20.000 kaki mengarah ke timur dan mencapai 50.000 kaki ke arah barat. Sebaran ini mencakup wilayah Jakarta dan sekitarnya, bahkan membentang hingga ke Samudra Hindia.
Meskipun fase erupsi menerus telah berakhir, Kementerian ESDM memberikan peringatan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berada pada level tinggi. Potensi terjadinya erupsi susulan yang dapat menimbulkan bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava tetap ada. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Level III atau Siaga, dengan penetapan radius aman sejauh tiga kilometer dari kawah.
Abu vulkanik merupakan salah satu ancaman keselamatan terbesar bagi transportasi udara. Partikel abu vulkanik yang terdiri dari batuan dan kaca silika mikroskopis memiliki risiko meleleh di dalam mesin jet. Hal ini dapat menyumbat aliran udara dan berpotensi menyebabkan kegagalan mesin secara mendadak ketika pesawat sedang mengudara.
Sebagai pusat penerbangan utama di Indonesia dan juga sebagai penghubung internasional di Asia Tenggara, Bandara Internasional Soekarno-Hatta memiliki posisi yang rentan terhadap dinamika erupsi yang terjadi di Selat Sunda. Penutupan ruang udara dan penghentian jadwal penerbangan merupakan prosedur keselamatan standar internasional yang diterapkan untuk mencegah risiko kecelakaan akibat paparan material vulkanik di atmosfer.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.