— Otoritas Amerika Serikat menyatakan lebih dari 300 drone tak berizin telah disita di sekitar lokasi-lokasi Piala Dunia sejak turnamen dimulai awal bulan ini. Langkah itu diambil menyusul pemberlakuan pembatasan udara ketat di sekitar stadion dan fan zone.

Pada hari pertandingan, semua operasi penerbangan termasuk drone dilarang dalam radius sekitar 4,8 kilometer dari stadion dan sampai ketinggian sekitar 900 meter. Pembatasan serupa juga diterapkan di kawasan fan zones.

Pembatasan itu diberlakukan sebagai langkah keamanan untuk mencegah drone menjadi ancaman bagi orang di darat dan bagian dari upaya mencegah potensi tindakan terorisme. Tahun lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan memperkuat pertahanan terhadap ancaman drone.

Penindakan Di Lokasi

Tim FBI dan lembaga penegak hukum lainnya dikerahkan di sekitar stadion untuk mendeteksi dan melumpuhkan drone yang beroperasi tanpa izin. Operator yang melanggar zona larangan terbang menghadapi denda hingga USD 100.000, penyitaan perangkat, serta kemungkinan tuntutan pidana.

Dalam satu operasi di Kansas City, Missouri pekan lalu, delapan drone dan alat pengendali disita dalam operasi gabungan yang menindak pelanggaran pembatasan penerbangan sementara pada acara di Stadion Kansas City dan zona penggemar. Dua operator juga menerima surat pemberitahuan pelanggaran.

Juru bicara Transportation Security Administration menyatakan penindakan dilakukan cepat dan proaktif terhadap siapa pun yang menerbangkan drone di zona terlarang.

“Pihak berwenang menerapkan pengamanan wilayah udara dan upaya mitigasi drone paling komprehensif dalam sejarah AS untuk Piala Dunia FIFA 2026, yang berujung pada penyitaan lebih dari 300 drone tak berizin hingga saat ini. Penerbangan drone tak berizin di area terlarang merupakan pelanggaran serius terhadap hukum federal,”

Sebelum pertandingan kedua Grup A antara Korea Selatan dan tuan rumah Meksiko pekan lalu, militer Meksiko dilaporkan mencegat dan menjatuhkan sebuah drone tak terdaftar yang terlihat terbang di atas markas latihan Korea Selatan di Guadalajara. Insiden itu menimbulkan kecurigaan soal kemungkinan aktivitas mata-mata.

Kasus penggunaan drone sebagai alat pengintaian bukan hal baru. Pada 2024, timnas wanita Kanada dituduh menggunakan drone untuk memata-matai latihan Selandia Baru menjelang Olimpiade Paris. Akibatnya, pelatih kepala Bev Priestman diberhentikan oleh Federasi Sepak Bola Kanada, dua anggota staf diskors, dan tim dikenai pengurangan enam poin.