Jurnal Indonesia — NABIRE – Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Tengah memaksa dua penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire dibatalkan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Jarak pandang yang menurun drastis hingga 70 meter, jauh di bawah standar keselamatan penerbangan 5 kilometer, menjadi penyebab utama keputusan tersebut.
Plt Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Douw Aturure Nabire, Alrido Simanjuntak, menjelaskan bahwa kondisi tersebut sangat membahayakan operasional penerbangan. “Jarak pandang tadi sudah kabur di bawah 70 meter, padahal jarak pandang untuk penerbangan seharusnya 5 kilometer. Karena kondisi tersebut, ada dua penerbangan yang terdampak akibat asap ini,” ujar Alrido, Sabtu (22/8/2026).
Dua penerbangan yang mengalami pembatalan adalah Nam Air dengan rute Nabire-Makassar yang dijadwalkan berangkat pukul 15.30 WIT, serta Wings Air rute Timika-Nabire yang seharusnya tiba sekitar pukul 16.00 WIT. Akibatnya, Bandara Douw Aturure sempat ditutup mulai pukul 15.30 WIT demi mengutamakan keselamatan seluruh pihak.
Meskipun jarak pandang sempat membaik menjadi sekitar 100 meter setelah satu jam penutupan, angka tersebut belum dianggap memadai untuk melanjutkan aktivitas penerbangan. “Untuk besok (hari ini-red) saya belum bisa memastikan. Petugas pemadam masih berusaha menjaga agar api tidak meluas ke area bandara,” tambah Alrido.
Asap yang mengganggu aktivitas bandara ini berasal dari kebakaran lahan yang berjarak sekitar 70 meter dari pagar perimeter bandara. Api berhasil dicegah agar tidak meluas ke dalam kawasan bandara berkat upaya petugas pemadam kebakaran yang melakukan penyemprotan air pada tumbuhan di sepanjang pagar. Pihak bandara sebelumnya telah mengimbau masyarakat melalui berbagai kanal untuk tidak melakukan pembakaran lahan.
Gangguan penerbangan ini hanya terjadi pada sore hari, sementara aktivitas penerbangan dari pagi hingga siang dilaporkan berjalan normal. Dalam kondisi normal, Bandara Douw Aturure Nabire melayani rata-rata 40 pergerakan pesawat atau sekitar 20 hingga 25 penerbangan setiap harinya, mulai pukul 06.30 WIT.
Titik Panas Meningkat di Papua Tengah
Sementara itu, data dari BMKG Nabire mencatat peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Papua Tengah. Prakirawan BMKG Nabire, Eusebio A, melaporkan terdapat 512 titik panas di seluruh Papua Tengah, dengan rincian 94 titik berkategori rendah, 409 titik berkategori sedang, dan sembilan titik berkategori tinggi.
Nabire menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas terbanyak, menyumbang 279 titik atau sekitar 54,5 persen dari total keseluruhan di Papua Tengah. Peningkatan jumlah titik panas di Nabire tercatat signifikan, dari 113 menjadi 279 titik, atau bertambah 166 titik dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.
Selain Nabire, wilayah lain yang juga mencatat banyak titik panas antara lain Dogiyai dengan 72 titik, Paniai 54 titik, Puncak 45 titik, dan Intan Jaya 44 titik. Deiyai mencatat 11 titik panas, sementara Puncak Jaya tujuh titik. Kabupaten Mimika menjadi satu-satunya wilayah yang tidak terdeteksi titik panas.
Secara keseluruhan, jumlah titik panas di Papua Tengah mengalami kenaikan sebesar 266 titik atau sekitar 108,1 persen dibandingkan pemantauan sebelumnya yang mencatat 246 titik. Peningkatan ini menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam mencegah perluasan kebakaran.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.