Jurnal Indonesia — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan positif pada bisnis wealth management. Hingga paruh pertama tahun ini, dana kelolaan atau asset under management (AUM) BCA mencapai Rp339 triliun, meningkat 16% secara year on year (yoy).
Direktur BCA Haryanto T. Budiman mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mulai berinvestasi. Ia membandingkan, AUM pada 2022 tercatat Rp139 triliun, sehingga terdapat peningkatan besar selama lima tahun terakhir.
“Kalau kami lihat asset under management (BCA) di tahun 2022 itu Rp139 triliun. Pada Juni 2026, AUM kami mencapai Rp339 triliun, dibandingkan dengan tahun lalu ada peningkatan 16%,” jelas Haryanto dalam konferensi pers BCA Wealth Summit 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Haryanto menilai, pertumbuhan AUM dua digit tersebut sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), terutama dana murah (current account saving account/CASA), maupun investasi BCA. Ke depan, pihaknya memperkirakan AUM wealth management masih akan tumbuh positif.
Melihat potensi besar pada bisnis wealth management, BCA kembali menghadirkan BCA Wealth Summit 2026. Acara ini merupakan forum edukasi finansial tahunan yang dirancang untuk membantu nasabah dan masyarakat mempersiapkan perencanaan finansial masa depan secara lebih menyeluruh. Mengangkat tema, “Guard Your Future, Lead What’s Next”, BCA Wealth Summit 2026 mengajak nasabah dan masyarakat luas memahami pentingnya menjaga ketahanan finansial sebagai fondasi dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Penyelenggaraan BCA Wealth Summit 2026 berlangsung secara hybrid. Sesi luring (offline) dilaksanakan pada 16-17 September 2026 yang akan dihadiri oleh nasabah undangan, dilanjutkan dengan sesi daring (online) pada 18 September hingga 2 Oktober 2026 melalui website bca.id/wealthsummit, yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat dan nasabah BCA.
Haryanto menyampaikan bahwa BCA Wealth Summit 2026 menjadi wadah bagi nasabah untuk memahami dinamika pasar keuangan global dan domestik yang semakin kompleks, perubahan lanskap investasi, hingga risiko kesehatan yang kian meningkat. Oleh karenanya, kegiatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan investasi dan proteksi dengan lebih percaya diri, lebih bijak, dan berbasis informasi.
“Melalui BCA Wealth Summit 2026, kami ingin menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana masyarakat dapat membangun ketahanan finansial, melindungi aset, serta menjaga kesehatan sebagai bagian dari strategi finansial jangka panjang. BCA berkomitmen menjadi mitra yang mendampingi nasabah dalam setiap fase perjalanan finansial mereka,” ujar Haryanto.
BCA Wealth Summit 2026 sesi offline menghadirkan berbagai sesi yang membahas kondisi ekonomi terkini di tengah volatilitas pasar, mengetahui arah tren dan dinamika pasar dan perkembangan teknologi. Kegiatan ini juga menghadirkan dua tokoh menteri luar negeri di dua periode sebelumnya, yaitu Marty Natalegawa dan Retno Marsudi. Kedua sosok ini akan membagikan insight dan pengalaman berharga yang penting di aspek geopolitik dan kepemimpinan di tengah situasi ketidakpastian yang terjadi.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai pengelolaan kekayaan dan wealth transfer kepada generasi penerus, hingga pentingnya menjaga kesehatan fisik dan finansial sebagai dua elemen yang saling melengkapi dalam membangun masa depan.
Melalui BCA Wealth Summit 2026, BCA berharap semakin banyak masyarakat yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai pentingnya membangun, melindungi, dan mewariskan kekayaan secara berkelanjutan. Ke depan, BCA akan terus menghadirkan solusi dan layanan wealth management yang relevan agar nasabah semakin siap dalam menghadapi setiap perubahan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.