Jurnal Indonesia — China mencatatkan penambahan cadangan emas terbesar sejak tahun 2023, dengan mempercepat pembelian pada Agustus 2026 di tengah lonjakan harga logam mulia tersebut. Data yang dirilis oleh bank sentral menunjukkan bahwa kepemilikan emas People’s Bank of China (PBOC) meningkat sebesar 650.000 ons.
Peningkatan ini memperpanjang rangkaian aksi beli emas oleh PBOC hingga 22 bulan berturut-turut. Aksi akumulasi emas yang berkelanjutan oleh PBOC, yang dikenal sebagai salah satu pembeli terbesar di sektor resmi dunia, ditambah dengan pembelian oleh investor negara lainnya, telah memberikan keyakinan bagi para investor yang optimistis terhadap emas dalam jangka panjang, meskipun imbal hasil obligasi yang tinggi masih menjadi hambatan bagi logam mulia dalam jangka pendek.
Sebelumnya, World Gold Council (WGC) mengungkapkan bahwa pembelian emas terbesar di antara bank sentral dilakukan oleh bank sentral China sebesar 20 ton, dan bank sentral Polandia sebanyak 8 ton pada Juli 2026. WGC membeberkan, China telah menambah 60 ton emas ke dalam cadangannya selama tahun 2026, menempati posisi kedua setelah Polandia. PBOC sendiri telah melakukan pembelian emas selama 21 berturut-turut.
“Cadangan emas resmi China kini mencapai 8% dari total cadangan asetnya, atau sekitar 2.366 ton, menjadikannya pemegang emas terbesar keenam secara global,” ungkap Marissa Salim, Senior Research Lead, APAC di World Gold Council (WGC).
“Yang patut dicatat, aktivitas People’s Bank of China (PBoC) telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan pembelian emas bulanan mencapai angka dua digit sejak Mei 2026,” katanya.
Adapun bank-bank sentral melanjutkan akumulasi emas mereka pada bulan Juli dengan pembelian bersih tercatat sebesar 23 ton, menurut laporan WGC. Setelah mengalami tekanan sepanjang sebagian besar tahun ini, harga emas dunia telah naik hampir 10% pada bulan Agustus di tengah bangkitnya kembali strategi investasi yang mengantisipasi penurunan nilai mata uang (debasement trade). Rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian kembali utang pemerintah memicu kekhawatiran mengenai inflasi dan pelemahan dolar AS, sehingga mendorong investor untuk mencari aset penyimpan nilai alternatif seperti emas.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.