— JAKARTA – Seorang mantan karyawan perusahaan teknologi informasi NCS di Singapura, Kandula, dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan atas perbuatannya menghapus 180 server virtual milik perusahaan. Aksi ini merupakan bentuk balas dendam setelah ia merasa sakit hati karena dipecat.

Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa NCS mengakhiri hubungan kerja dengan Kandula pada Oktober 2022 karena dianggap memiliki kinerja yang buruk. Hari terakhir Kandula bertugas adalah pada 16 November 2022. Keputusan pemecatan tersebut membuatnya kecewa dan bingung, karena ia merasa telah memberikan kontribusi yang baik selama bekerja.

Sebelum pemecatan, Kandula tergabung dalam tim yang mengelola sistem quality assurance (QA) sejak November 2021. Sistem ini berfungsi untuk menguji perangkat lunak dan program baru sebelum diluncurkan ke publik. NCS menyatakan bahwa sistem yang menjadi sasaran penghapusan ini terdiri dari sekitar 180 server virtual yang digunakan untuk pengujian mandiri dan tidak menyimpan data sensitif perusahaan maupun pelanggan.

Meskipun telah kembali ke India, Kandula masih menyimpan dendam. Menggunakan laptop pribadinya, ia melakukan akses ilegal ke sistem NCS sebanyak enam kali antara 6 hingga 17 Januari 2023, menggunakan kredensial administrator. Akses-akses ini dilakukan untuk mempersiapkan aksi penghapusan server.

Pada Februari 2023, saat kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan, Kandula kembali memanfaatkan jaringan Wi-Fi dari tempat ia menumpang untuk mengakses sistem perusahaan pada 23 Februari 2023. Dalam periode ini, ia menulis dan menguji beberapa skrip yang dirancang khusus untuk menghapus server.

Puncak dari aksi balas dendam ini terjadi pada 18 dan 19 Maret 2023. Setelah melakukan 13 kali akses ke sistem QA, Kandula menjalankan skrip yang telah disiapkannya untuk menghapus seluruh server virtual secara bertahap. Akibatnya, 180 server virtual lenyap.

Tim IT NCS baru menyadari hilangnya server pada keesokan harinya ketika sistem tidak dapat diakses. Berbagai upaya pemulihan tidak berhasil, dan tim akhirnya menyimpulkan bahwa seluruh server virtual dalam sistem pengujian telah dihapus.

NCS melaporkan insiden ini kepada polisi pada 11 April 2023. Penyelidikan internal perusahaan sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah alamat IP mencurigakan yang digunakan untuk mengakses sistem. Polisi kemudian menyita laptop Kandula dan menemukan skrip yang digunakan untuk menghapus server NCS.

Serangan siber ini menyebabkan perusahaan menanggung kerugian sekitar USD 918.000, atau setara dengan Rp 16,4 miliar. Meskipun NCS berhasil memulihkan sistem yang terdampak, kerugian material yang ditimbulkan cukup signifikan.