Jurnal Indonesia — Tragedi Kereta Api Ufa pada malam 3-4 Juni 1989 tercatat sebagai salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Uni Soviet. Peristiwa tragis yang terjadi di wilayah Bashkiria, Pegunungan Ural, ini merenggut nyawa lebih dari 500 orang.
Akar mula musibah ini adalah kebocoran pada pipa gas cair Siberia Barat yang pecah, menyebabkan akumulasi gas hidrokarbon dalam jumlah besar di udara sekitar jalur kereta api. Pada saat yang bersamaan, dua kereta penumpang yang membawa total 1.284 penumpang dan 86 kru melintas di zona terkontaminasi gas tersebut.
Sebuah percikan api dari salah satu lokomotif listrik memicu ledakan dahsyat yang diperkirakan setara dengan 300 ton TNT. Akibatnya, 575 orang tewas dan 623 lainnya luka-luka, menjadikannya kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Uni Soviet dan Federasi Rusia.
Operator Tetap Melaju Meski Ada Kebocoran Gas
Meskipun dipicu oleh kebocoran pipa gas, akumulasi gas, dan percikan api, analisis mendalam menunjukkan adanya faktor kelalaian manusia dan manajemen sistemis. Laporan mengenai kebocoran gas sebenarnya sudah ada, namun operator kereta tetap melanjutkan perjalanan hingga ledakan terjadi.
Ironisnya, pipa gas cair tersebut diketahui telah mengalami 50 kali insiden kebocoran dalam tiga tahun sebelumnya dan dibangun sejajar dengan jalur kereta api sepanjang lebih dari 270 kilometer.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.