Jurnal Indonesia — JAKARTA – Pembagian dividen interim oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp6,16 triliun dianggap sebagai sinyal positif bagi saham perseroan. Hal ini didukung oleh profitabilitas dan permodalan Bank Mandiri yang dinilai masih kuat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa dividen interim sebesar Rp66 per saham mencerminkan kemampuan Bank Mandiri dalam menjaga kinerja sekaligus memberikan imbal hasil kepada para pemegang saham.
“Pembagian dividen interim BMRI sebesar Rp6,16 triliun atau Rp66 per saham menunjukkan kuatnya kapasitas profitabilitas dan permodalan Bank Mandiri,” ujarnya.
Menurut Nafan, kebijakan pembagian dividen tersebut juga mencerminkan keyakinan manajemen terhadap keberlanjutan kinerja perseroan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang masing-masing mencapai 17,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan tersebut turut menopang kenaikan laba bersih sebesar 22,3% yoy. Di sisi lain, kualitas aset Bank Mandiri dilaporkan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1%.
Nafan menilai kemampuan Bank Mandiri membagikan dividen di tengah ekspansi kredit menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki ruang permodalan yang cukup untuk menjalankan pertumbuhan bisnis sekaligus menjaga imbal hasil bagi investor.
Sepanjang 2026, total dividen Bank Mandiri diproyeksikan mencapai sekitar Rp50,63 triliun atau setara Rp542,95 per saham. Jumlah ini terdiri atas dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun atau Rp476,95 per saham dan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun atau Rp66 per saham.
Nafan menambahkan, distribusi dividen tersebut berpotensi menjaga daya tarik saham BMRI, baik bagi investor yang mengejar pendapatan dividen maupun yang mempertimbangkan potensi kenaikan harga saham.
“Pembagian dividen interim juga berpotensi meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga daya tarik BMRI bagi investor institusi maupun ritel,” katanya.
Dari sisi fundamental, Nafan masih melihat prospek BMRI cukup positif. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit dua digit, ekspansi ke sektor produktif, serta kemampuan perseroan dalam menjaga kualitas aset dan likuiditas.
Meskipun demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati sejumlah faktor penting. Faktor-faktor tersebut antara lain valuasi saham, arah suku bunga, kualitas aset, dan keberlanjutan pertumbuhan kredit.
“Investor tetap perlu mencermati valuasi saham, arah suku bunga, kualitas aset, dan keberlanjutan pertumbuhan kredit,” imbuh Nafan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.