— JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), salah satu emiten dari Grup Sinar Mas, telah menetapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) grup hingga US$ 707,3 juta atau setara Rp 12,4 triliun untuk tahun 2026. Angka ini belum termasuk potensi investasi tambahan sekitar US$ 390 juta atau Rp 6,8 triliun.

Porsi terbesar dari capex tahun ini akan difokuskan pada percepatan pengembangan infrastruktur digital. Sekitar US$ 600 juta dari total capex grup dialokasikan untuk ekspansi layanan fixed wireless access (FWA) dan fiber to the home (FTTH).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, menyatakan bahwa pengembangan infrastruktur digital merupakan komponen krusial dalam agenda transformasi bisnis DSSA. “Dalam jangka pendek hingga menengah, pertumbuhan terutama ditopang oleh bisnis FWA dan FTTH melalui PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) serta pusat data (data center) SM+,” ungkap Kafi dan Erindra dalam riset mereka yang dirilis pada Kamis (10/9/2026).

Selain capex 2026, DSSA juga memiliki rencana investasi tambahan sekitar US$ 390 juta. Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas pusat data SMX01 dari 21 megawatt (MW) menjadi 60 MW, yang merupakan peningkatan sebesar 39 MW. Ekspansi ini akan dilaksanakan melalui perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan LG, di mana kedua pihak masing-masing memegang saham 50%.

Pusat data SMX01, yang memiliki kapasitas awal 21 MW, dijadwalkan untuk mulai beroperasi pada Oktober 2026. Fasilitas berlantai 11 ini dibangun dengan estimasi biaya US$ 10 juta per MW dan dirancang untuk mampu mendukung rak graphics processing unit (GPU) dengan kepadatan tinggi, bahkan untuk generasi terbaru seperti Vera Rubin.

Pusat data ini telah berhasil mendapatkan penyewa utama, yaitu Konst asal Taiwan, yang merupakan penyedia layanan GPU as a service. Kontrak yang disepakati memiliki durasi antara tiga hingga lima tahun. Manajemen DSSA memproyeksikan margin EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) sebesar 55% dari fasilitas ini.

Menurut Kafi, DSSA menargetkan perubahan komposisi EBITDA dari segmen energi dan non-energi. Jika pada tahun 2027 komposisinya adalah 60:40, targetnya adalah menjadi 50:50 pada 2028, dan berlanjut menjadi 20:80 pada 2029. Hingga tiga bulan pertama tahun 2026 (3M26), segmen energi masih menjadi kontributor utama pendapatan DSSA, menyumbang sekitar 80%, serta 68% terhadap laba kotor.

Lebih lanjut, DSSA juga tengah mengembangkan fasilitas manufaktur panel surya fotovoltaik atau solar photovoltaic (solar PV) dengan kapasitas 1 gigawatt (GW) per tahun yang berlokasi di Kendal. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan proyek panas bumi dengan kapasitas awal 440 MW. Kedua proyek energi baru terbarukan ini diperkirakan mulai memberikan kontribusi finansial pada tahun 2029.

Dari sisi neraca keuangan, rasio utang bersih terhadap EBITDA (ND/EBITDA) DSSA tercatat sebesar 0,7 kali. BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa posisi keuangan ini masih dalam kategori yang terkelola dengan baik. Ekspansi infrastruktur digital yang sedang dijalankan diprediksi akan menjadi motor penggerak pertumbuhan laba perusahaan di masa mendatang.