— Harga emas dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (7/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh menguatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) pada September. Faktor pendorong utama adalah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pertumbuhan solid.

Harga emas spot tercatat turun 0,54% dan ditutup pada level US$ 4.406,44 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga melemah 0,55% menjadi US$ 4.452 per ons troi. Aktivitas perdagangan emas dilaporkan relatif sepi karena pasar keuangan AS sedang libur.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengutip Reuters, menyatakan bahwa harga emas dan perak bergerak berlawanan dengan energi. Penurunan ini melanjutkan tren setelah laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pada Jumat lalu. Laporan tersebut mendorong imbal hasil obligasi naik dan memperkuat ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada 16 September.

Hansen menambahkan bahwa harga emas sempat menunjukkan minat beli ketika turun di bawah US$ 4.400 per ons troi. Namun, tekanan jual masih terlihat saat harga mendekati level US$ 4.500 per ons troi. “Dalam perdagangan hari ini, harga emas dua kali menemukan minat beli di bawah US$ 4.400 per ons troi, jauh di atas support penting sekitar US$ 4.320 per ons troi, sementara resistance terus muncul di atas US$ 4.500 per ons troi,” ujarnya.

Data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan peningkatan tajam dalam pertumbuhan lapangan kerja pada bulan Agustus, sementara tingkat pengangguran berhasil bertahan di angka 4,1%. Data ini secara signifikan mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan kebijakan yang dijadwalkan pekan depan.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan mencapai 60%. Angka ini mengalami peningkatan dari sekitar 50% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.

Fokus Data Inflasi AS

Perhatian pasar kini beralih pada data inflasi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang. Data producer price index (PPI) dijadwalkan terbit pada Kamis (10/9/2026), diikuti oleh consumer price index (CPI) pada Jumat (11/9/2026). Data inflasi ini akan menjadi indikator penting bagi pasar dalam memprediksi arah kebijakan moneter The Fed.

Secara umum, kenaikan suku bunga The Fed cenderung memberikan sentimen negatif bagi emas. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa logam mulia seperti emas tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas secara relatif menjadi berkurang di mata investor.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi masih menjadi perhatian pasar. Perkembangan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran yang berdampak pada kenaikan harga minyak. Iran juga dikabarkan akan mengumumkan zona terbatas baru di Teluk dalam beberapa hari ke depan, termasuk peta koridor pelayaran baru melalui Selat Hormuz.

Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Oleh karena itu, perkembangan harga energi dan risiko geopolitik yang meningkat tetap menjadi faktor potensial yang dapat memberikan dukungan terhadap harga emas.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu kembali menyuarakan desakannya kepada The Fed untuk menurunkan suku bunga. Trump bahkan menyatakan akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mengalami surplus perdagangan terhadap AS apabila The Fed tidak memangkas suku bunga.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot mengalami pelemahan tipis sebesar 0,06% menjadi US$ 66,17 per ons. Palladium juga terkoreksi 0,17% menjadi US$ 1.391,23 per ons. Sementara itu, platinum menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,03% menjadi US$ 1.823 per ons.