Jurnal Indonesia — Investor global mulai mengalihkan perhatian dari aset berbasis dolar Amerika Serikat (AS) untuk mencari perlindungan. Keputusan ini diambil seiring dengan tekanan yang terus meningkat di pasar obligasi AS, yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil (yield) jangka panjang.
Head of Research Pluang, Jason Gozali, menilai bahwa situasi ini justru menjaga daya tarik emas dan bitcoin (BTC) sebagai alternatif instrumen lindung nilai. Pluang memprediksi emas dapat mencapai target harga US$ 5.200 per troy ons dan bitcoin US$ 100.000 dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.
Proyeksi tersebut didasarkan pada analisis kombinasi defisit anggaran AS yang membengkak dan mekanisme lindung nilai di pasar obligasi yang dapat saling memperkuat kenaikan yield. “Investor takut yield obligasi 30 tahun terus naik, jadi mereka membeli asuransi lewat opsi,” ujar Jason di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Jason, para dealer yang menjual perlindungan tersebut juga terpaksa melakukan lindung nilai dengan menjual obligasi atau masuk ke dalam kontrak swap. Langkah ini berpotensi mendorong yield lebih tinggi, menciptakan efek bola salju di mana aksi perlindungan terhadap kenaikan yield justru memperbesar tekanan pasar.
Sementara itu, laporan dari Bloomberg mengindikasikan bahwa kekhawatiran inflasi dan membengkaknya defisit fiskal AS telah menutupi dampak program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah AS yang diperluas. Program tersebut bertujuan menahan biaya pinjaman, namun dampaknya tergerus oleh isu-isu makroekonomi.
Yield obligasi pemerintah AS berjangka panjang dilaporkan berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Prospek kenaikan yield ini mendorong pelaku pasar untuk membeli opsi guna melindungi portofolio investasi mereka.
Salah satu posisi besar yang terdeteksi di pasar opsi mencerminkan proyeksi bahwa yield obligasi AS tenor 30 tahun dapat menyentuh kisaran 5,7%, hampir 0,5 poin persentase lebih tinggi dari level saat itu. Dealer di sisi berlawanan dari transaksi ini kemudian perlu menyesuaikan lindung nilai mereka.
Penyesuaian tersebut dilakukan antara lain dengan menjual kontrak berjangka atau masuk ke dalam transaksi swap dengan membayar suku bunga tetap. Mekanisme yang dikenal sebagai convexity hedging atau delta hedging ini dapat memperbesar kenaikan suku bunga swap ketika yield meningkat.
Jason menambahkan, pola serupa juga teramati di pasar obligasi berbasis kredit perumahan setelah The Fed mengurangi kepemilikannya. Risiko kini lebih banyak berada di tangan manajer investasi swasta yang cenderung lebih aktif dalam melindungi posisi mereka.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.