Jurnal Indonesia — Harga emas dunia kembali menembus level US$ 4.400 per ons troi pada perdagangan Rabu, didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan dolar ini membuat logam mulia tersebut menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.
Pada saat berita ditulis, harga emas di pasar spot tercatat naik 1,06% menjadi US$ 4.401,43 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS dilaporkan meningkat 0,15% ke angka US$ 4.445,55 per ons troi.
Pelemahan dolar AS secara umum membuat emas, yang dihargai dalam mata uang tersebut, menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas di tengah ketidakpastian yang masih membayangi pasar global.
Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, menyatakan bahwa pasar emas dalam jangka pendek masih berada dalam tarik-menarik antara sentimen bullish dan bearish. Pergerakan ini diperkirakan akan berlanjut hingga rilis data inflasi konsumen AS pada akhir pekan.
“Di pasar emas, dalam jangka pendek terjadi tarik-menarik antara kenaikan dan penurunan. Pergerakan seperti ini kemungkinan berlanjut hingga akhir pekan ketika laporan CPI dirilis,” kata Wong.
Menurut Wong, ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang lebih hawkish masih menjadi faktor pembatas penguatan emas. Namun, kekhawatiran terhadap pelemahan nilai dolar AS serta membengkaknya defisit fiskal AS tetap menjadi penopang harga emas.
Pelaku pasar kini tengah menantikan data producer price index (PPI) AS yang akan dirilis pada Kamis, sebelum data consumer price index (CPI) menyusul pada Jumat. Kedua data ini akan menjadi perhatian utama karena berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 60% kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Permintaan Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik
Meskipun demikian, meningkatnya ketegangan geopolitik kembali memberikan dukungan terhadap permintaan aset safe haven. Ketegangan antara AS dan Iran dilaporkan meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan di Yordania yang diduga digunakan militer AS. Iran juga mengklaim menyerang 10 kapal.
Eskalasi ini terjadi setelah AS menyatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di pasar global di tengah konflik yang telah berlangsung selama enam bulan.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent juga melonjak untuk sesi keempat berturut-turut. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena biaya energi yang lebih tinggi dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi.
Kondisi ini menciptakan situasi yang kompleks bagi emas. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun, jika tekanan inflasi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, daya tarik emas dapat kembali tertekan.
Strategis komoditas Alpine Macro, Kelly Xu, menilai bahwa logam mulia menghadapi ujian dalam jangka pendek, tetapi peluang terjadinya aksi jual besar kembali relatif terbatas.
“Logam mulia menghadapi ujian dalam jangka pendek, tetapi aksi jual besar lainnya kemungkinan kecil terjadi,” ujar Xu.
Ia menambahkan, kondisi pasar fisik yang ketat masih menjadi faktor penting bagi komoditas logam mulia. Sementara itu, defisit pasokan struktural berpotensi bertahan karena produksi tambang cenderung tidak elastis. Selain itu, permintaan dari sektor elektrifikasi, elektronik, serta infrastruktur yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan tetap memberikan dukungan fundamental terhadap harga perak dalam jangka panjang.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melesat 1,39% menjadi US$ 66,66 per ons. Platinum melonjak 2,02% menjadi US$ 1.856,01 per ons, sedangkan palladium meningkat 0,39% menjadi US$ 1.358,85 per ons troi.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.