Jurnal Indonesia — Harga emas dunia menunjukkan sensitivitas yang meningkat terhadap pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Dinamika indeks dolar AS dan data inflasi Amerika Serikat (AS) kini menjadi faktor krusial yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan harga emas ke depan.
Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik tipis 0,07% ke level US$ 4.358,97 per ons troi. Sebelumnya, pada Selasa (8/9/2026), emas ditutup jatuh 1,15% ke US$ 4.355,55 per ons troi. Namun, secara year-to-date (ytd) 2026, harga emas masih mampu mencatatkan penguatan sebesar 0,73%.
Market Analyst Forex.com, David Scutt, mengungkapkan bahwa hubungan terbalik antara emas dan dolar AS saat ini berada pada level ekstrem jika dibandingkan dengan pola historis. “Emas dan perak pada dasarnya telah menjadi permainan terhadap pergerakan arah dolar AS selama sebulan terakhir, terutama dalam dua pekan terakhir,” ujar Scutt dalam risetnya, Rabu (9/9/2026).
Menurut Scutt, korelasi emas terhadap indeks dolar AS dalam 10 hari perdagangan terakhir berada di kisaran minus 0,88, sementara dalam periode 20 hari berada di sekitar minus 0,76. Korelasi negatif ini mengindikasikan bahwa emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan dolar AS. Dengan hubungan yang sangat kuat saat ini, pelemahan indeks dolar AS berpotensi memberikan dorongan signifikan bagi harga emas.
Saat ini, indeks dolar AS berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari dan bergerak di atas zona support 98,75-98,68. Pada bulan Agustus, indeks dolar AS sempat menguji area tersebut sebanyak dua kali namun gagal mempertahankan pelemahannya. Namun, tekanan terhadap dolar kembali meningkat seiring indikator momentum yang menunjukkan potensi penurunan. Penguatan yen Jepang juga turut memberikan tekanan terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY bahkan bergerak ke level yang belum terlihat sejak Februari pada Selasa.
“Jika pelemahan tersebut berlanjut, hal itu akan semakin meningkatkan risiko penurunan indeks dolar AS secara keseluruhan, terutama jika euro ikut menguat,” kata Scutt.
Level Kunci Harga Emas
Dari sisi teknikal, Scutt mengamati bahwa kenaikan harga emas pada awal perdagangan Asia berbalik arah pada akhir sesi. Penguatan tertahan di bawah US$ 4.450 per ons troi, yang merupakan resistance terdekat. Level ini bertepatan dengan garis tren penurunan sejak Agustus serta resistance horizontal.
Di sisi bawah, Scutt menambahkan, level US$ 4.367 per ons troi menjadi support pertama. Apabila level ini ditembus, harga emas berpotensi menguji US$ 4.333 per ons troi, yang merupakan level retracement Fibonacci 23,6%. “Tekanan lebih lanjut dapat membawa harga menuju US$ 4.283 per ons troi, level terendah pada awal September,” paparnya.
Meskipun demikian, indikator teknikal saat ini belum memberikan sinyal arah yang kuat. Relative Strength Index (RSI) 14 berada sedikit di bawah level 50, sementara Moving Average Convergence Divergence (MACD) bergerak sejajar dengan garis sinyal dan masih berada di wilayah negatif.
Dengan sinyal teknikal yang masih cenderung netral, data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis dan Jumat menjadi perhatian utama pasar. Data ini berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) dan arah pergerakan dolar AS. Apabila dolar melemah, emas berpeluang kembali menguji resistance di level US$ 4.450 per ons troi.
“Sebaliknya, penguatan dolar dapat menekan emas, terutama jika harga gagal bertahan di atas support US$ 4.367 per ons troi,” ungkap Scutt, sembari mengingatkan adanya risiko pelepasan posisi yen carry trade secara paksa. Kondisi tersebut berpotensi memicu pergerakan tajam dan tidak teratur pada pasar logam mulia.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.