Jurnal Indonesia — Semarang – Muhammad Hafiz Ridwan, yang telah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), memutuskan untuk tetap melanjutkan perjuangannya di Seleksi Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) 2026 hingga tahap pusat. Keputusan ini menunjukkan tekad kuat Hafiz untuk menggapai impian masa kecilnya menjadi seorang polisi.
Calon taruna (catar) Akpol pengiriman Polda Metro Jaya ini menegaskan kesiapannya untuk melepaskan kursi kuliah kedokteran jika cita-citanya masuk sekolah perwira Polri terwujud. Bagi pemuda berusia 18 tahun ini, impian menjadi polisi telah tumbuh sejak ia masih mengenakan seragam Taman Kanak-kanak.
“Saya sebenarnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa FK Unair. Tapi kalau saya diterima di Akpol, saya akan meninggalkan FK Unair,” kata Hafiz kepada wartawan di lokasi seleksi, Sabtu (25/7/2026).
Hafiz, yang merupakan sulung dari empat bersaudara, memiliki latar belakang keluarga yang kental dengan institusi Polri. Ayahnya adalah seorang perwira polisi yang memulai kariernya dari jenjang bintara, dan Hafiz sendiri menempuh pendidikan awal di lingkungan Kemala Bhayangkari.
“Saya ini dari kecil kebetulan TK Kemala Bhayangkari 19 Jakarta Selatan, sudah terbiasa suka pakai seragam abu-abu mirip polisi kalau hari tertentu. SD juga saya di SD Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Dan saya pernah ikut kompetisi baris-berbaris polisi cilik, lalu juara II se-Kota Surabaya,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa kecilnya.
Kenangan masa kecil tersebut semakin menguatkan tekadnya, terlebih saat melihat sang ayah bertugas memberikan konseling dan pendampingan psikologis kepada masyarakat. Hafiz mengagumi sosok ayahnya yang pantang menyerah dan terus mengembangkan diri hingga meraih gelar doktor.
“Melihat sosok ayah sebagai polisi, perlahan muncul keinginan dalam diri saya untuk jadi polisi. Lihat ayah suka menangani korban bencana dan memberikan konseling, saya melihat pekerjaannya sangat mulia karena menolong orang yang sedang kesusahan. Ayah saya bintara, tapi sekolah terus sampai S3,” cerita Hafiz bangga.
Ia menambahkan bahwa ayahnya meraih gelar S1 dan S2 Ilmu Psikologi, serta S3 Ilmu Kepolisian. “Sekarang Ayah berpangkat AKBP, dinas di Polda Jatim,” tambahnya.
Sebelum mantap mengejar cita-citanya menjadi perwira polisi, Hafiz mengaku pernah memiliki berbagai cita-cita lain, termasuk menjadi pilot, insinyur teknik sipil, pemain sepak bola, akuntan, hingga dokter. Cita-cita menjadi dokter bahkan sangat didukung oleh ibu dan neneknya.
“Ibu memang maunya saya jadi dokter karena dulu cita-cita ibu juga dokter. Nenek juga ingin saya jadi dokter,” katanya.
Keinginan menjadi polisi terus membayanginya saat memasuki bangku SMA. Sejak saat itu, hampir seluruh waktu luangnya ia manfaatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi rangkaian seleksi Akpol. Hafiz mulai berlatih psikologi, jasmani, dan akademik sejak kelas 10.
“Dari kelas 10 saya mulai latihan psikologi, jasmani, dan akademik. Di tingkat panitia daerah saya peringkat 4, tapi di tingkat pusat agak turun. Saya juga tidak tahu kenapa, tesnya terasa sangat sulit,” tutur Hafiz.
Ia menjelaskan rutinitas latihannya. “Dari kelas 10 saya latihan jasmani empat kali seminggu, seperti lari dan latihan fisik lainnya. Latihan psikologi tiap libur sekolah. Pas kelas 11 saya full berorganisasi sebagai Ketua OSIS. Baru di kelas 12 saya ikutan bimbingan belajar untuk UTBK dan Akpol,” kata peraih Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2024 di Universitas Pancasila serta Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2025 kategori kompetisi daring tersebut.
Meskipun terbiasa mengukir prestasi di berbagai kompetisi ilmiah, Hafiz mengakui seleksi Akpol memberikan tekanan mental yang jauh lebih berat. “Kalau olimpiade kita mengejar juara. Kalau di sini kita mengejar cita-cita. Rasanya hidup mati ada di sini, jadi tekanannya jauh lebih besar,” ucapnya.
Tingkat kesulitan seleksi pusat Akpol dirasakannya meningkat drastis dibandingkan seleksi daerah. Soal-soal yang diuji membutuhkan kemampuan analisis mendalam, bukan sekadar menghafal.
“Yang paling terasa itu matematika. Soalnya bukan lagi pertanyaan dasar, tapi lebih banyak pengembangan yang membutuhkan analisis,” ujarnya.
Hafiz sempat merasa kecewa ketika nilai Tes Potensi Akademiknya (TPA) hanya mencapai 68. Namun, ia segera bangkit demi menghadapi tes jasmani yang hanya berselang tiga hari. “Kemarin saya sempat kecewa dengan nilai saya. Tapi karena jadwal tes jasmani hanya berselang tiga hari dari akademik, bagaimana caranya saya harus memotivasi diri untuk bangkit. Alhamdulillah, nilai jasmani saya tertinggi se-Polda Metro Jaya. Nilai kesamaptaan saya 93,20. Itu yang buat semangat saya naik lagi,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
