Jurnal Indonesia — Gas bumi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai komoditas energi yang diperjualbelikan dan dikonsumsi. Molekul gas menyimpan nilai ekonomi yang jauh lebih besar, mampu berfungsi sebagai bahan baku berbagai industri sekaligus menjadi motor penggerak perekonomian nasional.
Pandangan ini disampaikan oleh Sampe Purba, mantan Kepala Divisi Monetisasi Gas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Menurutnya, gas memiliki karakteristik unik yang manfaatnya dapat menjangkau berbagai sektor jika tersedia dalam volume memadai dan harga kompetitif.
“Gas bukan sekadar komoditas untuk dijual, melainkan juga bahan baku ekonomi. Di beberapa negara, gas telah memicu tumbuhnya industri hilir dan industri pemanfaat gas yang memberikan nilai tambah,” ujar Sampe.
Sampe memaparkan, setidaknya ada tiga sektor utama yang dapat memetik manfaat strategis dari gas bumi. Pertama, gas berperan dalam memperluas akses energi bagi masyarakat. Di sektor rumah tangga, gas digunakan untuk kebutuhan memasak melalui jaringan gas kota (jargas), atau sebagai bahan bakar transportasi melalui pemanfaatan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) pada kendaraan komersial.
Manfaat yang lebih besar terlihat nyata di sektor industri. Gas merupakan komponen krusial dalam berbagai aktivitas manufaktur, mulai dari industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, pengolahan makanan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pembangkit listrik mandiri (captive power). Oleh karena itu, ketersediaan gas dengan harga terjangkau sangat vital demi keberlanjutan dan penguatan daya saing industri nasional.
“Gas tidak boleh hanya dilihat sebagai bahan bakar turbin atau boiler. Gas juga dapat berfungsi sebagai bahan baku (feedstock) yang mengolah bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” tutur Sampe.
Peran strategis gas tidak berhenti di sektor industri. Dalam sistem kelistrikan, gas berfungsi sebagai sumber energi yang fleksibel untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan yang fluktuatif akibat faktor cuaca.
Menurut Sampe, tiga kondisi harus terpenuhi agar masyarakat merasakan manfaat gas secara maksimal: volume yang memadai, ketersediaan infrastruktur yang tepat, dan harga yang kompetitif. Jika salah satu tidak terpenuhi, manfaat gas tidak akan optimal.
Di sisi lain, pengembangan gas South Andaman oleh Mubadala Energy dinilai Sampe dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi Aceh dan Indonesia. Nilai tersebut mencakup dukungan terhadap ketahanan energi, pertumbuhan industri, penciptaan lapangan kerja, keterlibatan pelaku usaha lokal, peningkatan kapasitas dan keterampilan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, hingga pendapatan negara.
“Proyek gas strategis seharusnya tidak hanya diukur dari volume produksinya semata, tetapi juga dari kemampuannya menghasilkan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian secara luas,” imbuh Sampe.
Realisasi seluruh manfaat tersebut menuntut kepastian regulasi, iklim investasi yang stabil, serta kolaborasi dan keselarasan yang kuat antara pemerintah, masyarakat, pelaku industri, dan para mitra proyek. Dengan terpenuhinya faktor-faktor tersebut, South Andaman diharapkan dapat memperkokoh ketahanan energi Indonesia sekaligus mendorong kesejahteraan Aceh dan pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih luas.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.