— Armenia, yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet, diguncang oleh gempa bumi dahsyat pada tahun 1988. Bencana alam ini meninggalkan luka sosial dan ekonomi mendalam yang berkontribusi pada keterpurukan Uni Soviet.

Gempa yang dikenal sebagai Gempa Bumi Armenia 1988 ini, menurut An EQE Summary Report Amerika Serikat, diawali dengan gempa bermagnitudo 3,0 pada 6 Desember. Puncaknya terjadi pada Rabu, 7 Desember 1988, sekitar pukul 11:41 waktu setempat, ketika gempa bermagnitudo 6,9 mengguncang wilayah barat laut Armenia selama kurang lebih 30 detik. Empat menit kemudian, gempa susulan besar bermagnitudo 5,8 kembali mengguncang, menghancurkan sebagian besar wilayah.

Dampak Bencana yang Luas

Sejumlah kota mengalami kehancuran total. Kota Spitak rata dengan tanah, menewaskan mayoritas dari 25.000 penduduknya. Kota Leninakan, kota terbesar kedua, mengalami kerusakan parah dengan 80% bangunannya hancur. Secara keseluruhan, 11% rumah penduduk Armenia luluh lantak.

Estimasi resmi Uni Soviet mencatat lebih dari 25.000 korban jiwa, namun angka tidak resmi menyebutkan jumlahnya bisa mencapai lebih dari dua kali lipat. Sekitar 19.000 orang dilaporkan terluka, dan lebih dari 500.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Menyadari skala bencana, pemerintah Uni Soviet secara resmi meminta bantuan internasional pada 9 Desember 1988. Bantuan yang mengalir tercatat sebagai yang terbesar sejak Perang Dunia II. Upaya pencarian dan penyelamatan korban di bawah reruntuhan sebagian besar dinyatakan selesai pada 17 Desember 1988.

Beban Ekonomi dan Sosial bagi Uni Soviet

Meskipun menerima bantuan internasional yang signifikan, gempa Armenia membebani ekonomi dan sosial Uni Soviet secara drastis, menjadikannya salah satu bencana alam terburuk di abad ke-20. Laporan pers Soviet pada Februari 1989 menyebutkan kerugian kerusakan bangunan mencapai lebih dari $16 miliar, angka yang diperkirakan berlipat ganda jika menghitung kerugian bisnis dan penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Armenia.

Gempa tersebut juga menyebabkan penghentian operasional 130 pabrik. Uni Soviet kehilangan 25% pasokan listrik vital yang biasanya dipasok oleh pembangkit nuklir Armenia, yang sebelumnya juga dijual ke Georgia. Bencana ini secara telanjang menyingkap kelemahan dalam desain bangunan, konstruksi, dan organisasi tanggap darurat Soviet, melumpuhkan negara tersebut.