Jurnal Indonesia — Gempa bumi susulan terus mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca gempa utama bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total ada 2.119 gempa susulan yang terjadi hingga Selasa (18/8/2026) pukul 05.00 WIB.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menginformasikan bahwa gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2. Sebanyak 24 gempa susulan dilaporkan memiliki kekuatan di atas magnitudo 5. Sementara itu, gempa terkecil tercatat bermagnitudo 1,3, dan 70 kali gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.
Gempa utama yang memicu rangkaian gempa susulan ini terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB dengan magnitudo 7,7. Gempa dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Sesar Naik Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault), yang berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah sekitarnya.
Beberapa wilayah terdampak peringatan dini tsunami adalah Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto dengan status Siaga. Sementara itu, Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo berada dalam status Waspada. Peringatan dini tsunami tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.
Korban Jiwa Bertambah Menjadi 68 Orang
Jumlah korban jiwa akibat gempa M 7,7 di NTT terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 68 jiwa meninggal dunia akibat bencana tersebut. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan pada Senin (17/8/2026) bahwa tidak ada lagi warga yang dinyatakan hilang.
Meskipun demikian, tim Badan SAR Nasional (Basarnas) tetap bersiaga penuh di lapangan. “Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. Namun demikian, tim Basarnas tetap melakukan upaya pencarian dan menerjunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak,” ujar Berton.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.