— Harga batu bara mayoritas mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Meskipun demikian, prospek permintaan batu bara global diperkirakan akan meningkat tahun ini. Peningkatan ini didorong oleh gangguan pasokan energi yang terjadi di tengah konflik Timur Tengah.

Data perdagangan menunjukkan bahwa harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 naik US$ 0,65 menjadi US$ 148 per ton. Sementara itu, kontrak Oktober 2026 mengalami penurunan US$ 0,7 ke level US$ 150,4 per ton, dan kontrak November 2026 terpangkas US$ 0,05 menjadi US$ 153,45 per ton.

Untuk harga batu bara Rotterdam, kontrak September 2026 tercatat naik US$ 0,9 menjadi US$ 140,75 per ton. Kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 1,05 ke level US$ 142,1 per ton, sedangkan kontrak November 2026 menguat US$ 0,85 menjadi US$ 141,85 per ton.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan meningkat sebesar 1,2% pada tahun 2026, mencapai 8,94 miliar ton. Proyeksi ini merupakan pembalikan dari perkiraan sebelumnya yang memprediksi konsumsi batu bara akan sedikit menurun secara tahunan.

IEA mengidentifikasi beberapa faktor pendorong kenaikan permintaan ini, termasuk kenaikan harga gas, perubahan pola cuaca, serta peningkatan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara di negara-negara yang memiliki kapasitas cadangan.

Gangguan yang terjadi di Selat Hormuz juga turut memperkuat daya saing batu bara. Meskipun pengiriman batu bara tidak melalui jalur tersebut, pembatasan lalu lintas gas alam cair (LNG) telah menyebabkan pengetatan pasokan gas dan kenaikan harga gas. Kondisi ini mendorong sejumlah negara untuk beralih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik.

Permintaan batu bara dilaporkan meningkat di Eropa, Jepang, Korea Selatan, China, dan beberapa negara lain yang mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar gas serta memiliki kapasitas batu bara yang masih tersedia.

Faktor cuaca juga diperkirakan akan meningkatkan konsumsi batu bara. IEA memperkirakan pola El Nino yang lebih kuat tahun ini akan meningkatkan kebutuhan pendinginan sekaligus menekan produksi pembangkit listrik tenaga air.

Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada sistem kelistrikan dan mendorong penggunaan pembangkit berbahan bakar batu bara. IEA memperkirakan prospek permintaan batu bara selanjutnya akan sangat bergantung pada durasi gangguan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Jika ketegangan mereda dan pengiriman LNG kembali normal sehingga harga gas turun, permintaan batu bara global diperkirakan akan menurun 0,4% pada 2027 menjadi 8,91 miliar ton. Sebaliknya, jika gangguan berkepanjangan, konsumsi batu bara berpotensi meningkat lebih tinggi.

Dari sisi regional, tren permintaan menunjukkan variasi. IEA memperkirakan konsumsi batu bara China akan tumbuh 1% pada tahun ini, India naik 4,2%, dan Korea Selatan meningkat 6%. Sebaliknya, permintaan batu bara Jepang diperkirakan turun 1%, sedangkan Amerika Serikat merosot 7%.

Dari sisi pasokan, produksi batu bara global diperkirakan turun tahun ini meskipun konsumsi meningkat. Kondisi ini berpotensi memperketat pasar dan menopang harga. Produksi China diperkirakan turun setelah pemerintah melakukan inspeksi keselamatan menyusul kecelakaan besar di salah satu tambang pada awal tahun.

Secara global, produksi batu bara diperkirakan tetap di atas 9 miliar ton untuk tahun ketiga berturut-turut. Produksi diproyeksikan kembali meningkat tipis pada 2027 setelah mengalami penurunan pada 2026, seiring dengan masih tingginya persediaan.

Harga batu bara termal sendiri sempat menguat pada paruh pertama 2026 dan beberapa kali menyentuh US$150 per ton. IEA menilai krisis Timur Tengah berpotensi meningkatkan perdagangan batu bara sekaligus membantu menstabilkan pasar, membuat prospek komoditas tersebut semakin bergantung pada perkembangan geopolitik.