— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan yang meningkat seiring lonjakan persediaan minyak sawit Malaysia ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat turun 71 Ringgit Malaysia menjadi 4.598 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 juga terkoreksi 71 ringgit Malaysia menjadi 4.716 ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak November 2026 anjlok 81 ringgit Malaysia menjadi 4.885 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 ambles 76 ringgit Malaysia menjadi 5.033 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 terpangkas 66 ringgit Malaysia menjadi 5.154 ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Februari 2027 turun 52 ringgit Malaysia menjadi 5.248 ringgit Malaysia per ton.

Sentimen pasar tertekan setelah data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia meningkat 7,48% secara bulanan pada Agustus. Angka tersebut mencapai 2,82 juta ton, level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Pada periode yang sama, ekspor minyak sawit Malaysia turun 7,5% menjadi 1,29 juta ton, sementara produksi justru meningkat 1,39% menjadi 1,82 juta ton.

Kombinasi antara kenaikan produksi dan penurunan ekspor tersebut memperkuat kekhawatiran pasar mengenai potensi melimpahnya pasokan CPO. Tekanan harga juga datang dari pelemahan harga minyak nabati lainnya di Dalian dan Chicago, serta penguatan Ringgit Malaysia yang membuat komoditas berbasis ringgit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli internasional.

Di India, pembelian minyak nabati dalam jumlah besar menyebabkan sejumlah pelabuhan utama mengalami kepadatan. Proses bongkar muat kapal dilaporkan tertunda hingga 10 hari karena tangki penyimpanan yang penuh. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan impor dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, penurunan harga CPO berhasil tertahan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent telah menembus US$ 100 per barel di tengah memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah ini meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, sehingga memberikan dukungan terhadap harga CPO dan membatasi tekanan lebih lanjut.

Di sisi lain, cuaca kering di Asia Tenggara juga menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi penurunan hasil panen, terutama setelah kebakaran dan kabut asap terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.