— Harga minyak mentah Brent kembali mendekati level US$ 100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Kenaikan ini menekan sentimen pasar saham Asia di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent melonjak lebih dari US$ 1 pada awal perdagangan dan mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Kontrak Brent tercatat naik US$ 1,57 menjadi US$ 99,49 per barel, level tertinggi sejak akhir Juni. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan US$ 1,60 menjadi US$ 94,63 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meluasnya konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026). Bersamaan dengan itu, pasukan AS melakukan serangan terhadap sejumlah kapal tanker minyak Iran, dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global sekaligus kembali mendorong ekspektasi inflasi.

Tekanan dari kenaikan harga minyak membuat pergerakan bursa saham Asia cenderung bervariasi. Indeks S&P/ASX 200 Australia mengalami penurunan sekitar 0,3%, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,6%. Di China, indeks saham unggulan CSI300 mencatat kenaikan tipis 0,2%.

Sebaliknya, sejumlah bursa Asia lainnya justru mendapat dukungan dari rebound saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Indeks Nikkei Jepang naik 0,6% setelah sempat anjlok 1,7% pada perdagangan Selasa. Kospi Korea Selatan melonjak 1,6%, sementara Taiex Taiwan menguat 0,6%.

Analis Pepperstone, Chris Weston, menyatakan bahwa pasar makro utama saat ini menunjukkan pola pergerakan yang belum menentukan arah, dengan rentang perdagangan yang relatif sempit dan cenderung konsolidasi. Menurutnya, harga Brent menjadi salah satu indikator paling jelas untuk membaca sentimen pasar secara real time, dan level US$ 100 per barel kini semakin mungkin tercapai.

Fokus Data Inflasi AS

Kenaikan harga energi menjadi perhatian pasar karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral global.

Pasar kini menantikan data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data tersebut menjadi krusial untuk menentukan arah kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang yang hampir berimbang antara kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin atau mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Di sisi lain, pasar hampir sepenuhnya memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dua hari setelah keputusan The Fed.

Di pasar valuta asing, yen menguat sekitar 0,2% menjadi 153,66 per dolar AS, mendekati level 152,89 yang dicapai pada perdagangan sebelumnya. Yen telah menguat sekitar 4% dalam lima sesi terakhir. Penguatan ini dipicu oleh komentar pejabat BOJ yang cenderung hawkish dan semakin kuat setelah sejumlah level teknikal ditembus.

Sementara itu, euro naik 0,1% menjadi US$ 1,1629 menjelang keputusan kebijakan European Central Bank (ECB) pada Kamis. Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga 25 basis poin. Pound sterling relatif stabil di US$ 1,3545, sedangkan dolar Australia naik 0,1% menjadi US$ 0,7222.

Di pasar aset kripto, Bitcoin bergerak naik tipis ke US$ 78.680,60 per koin. Harga emas juga dilaporkan menguat 0,3% menjadi sekitar US$ 4.368 per ons troi.