Jurnal Indonesia — Indeks-indeks saham Wall Street kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis, memperpanjang tren penurunan menjadi empat hari beruntun. Lonjakan harga minyak yang menembus US$ 100 per barel memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan membuat investor kembali waspada terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 316,56 poin atau 0,6% ke level 52.064,10. Indeks S&P 500 melemah 0,58% ke 7.591,70, sementara Nasdaq Composite turun 0,65% menjadi 26.081,72.
Tekanan terhadap saham-saham Wall Street semakin besar setelah harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup melesat 6,7% menjadi US$ 102,48 per barel, dan harga minyak Brent naik 5,9% ke US$ 107,63 per barel. Kedua kontrak minyak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Sejak perang Amerika Serikat (AS)-Iran dimulai pada akhir Februari, harga WTI telah melonjak 52,9%, dan secara year-to-date (ytd) melesat 78,5%.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan kembali meningkat, sekaligus membuat investor memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi. Kondisi ini juga mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury tenor 10 tahun menembus 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Kenaikan imbal hasil obligasi menekan saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli Wall Street. Investor khawatir kenaikan suku bunga dan biaya energi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Saham Intel turun 5,6%, sedangkan Micron Technology melemah 4,7%. Di sisi lain, saham Alphabet dan Microsoft masing-masing menguat kurang dari 1%. Saham Apple justru melonjak 3,6% setelah perusahaan meluncurkan smartphone lipat pertamanya.
Investor Menanti Data Inflasi
Sentimen pasar juga dibayangi laporan inflasi produsen AS. Producer Price Index (PPI) pada Agustus naik 0,4% secara bulanan, sesuai dengan konsensus Dow Jones. Secara tahunan, PPI mencapai 5,4%, masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Data tersebut menjadi perhatian investor menjelang rilis Consumer Price Index (CPI) AS pada Jumat. CPI menjadi salah satu indikator penting yang akan dipertimbangkan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. “Rilis PPI sendiri tidak memberikan kesimpulan karena tidak benar-benar membantu menjawab pertanyaan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga atau tidak pekan depan. Namun, harga WTI yang kembali menembus US$ 100 dan yield Treasury yang mencapai level tertinggi baru tentu meningkatkan taruhannya bagi investor menjelang laporan CPI penting besok,” tulis Stephen Coltman, Head of Macro di 21Shares.
Pasar kini semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak futures dana The Fed menunjukkan peluang sekitar 73% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah pertemuan kebijakan pekan depan. The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan pada 15-16 September 2026.
Di tengah lonjakan harga energi dan kenaikan yield, Departemen Keuangan AS pada Kamis menyelesaikan pembelian kembali surat utang pemerintah senilai US$ 5,19 miliar dari target US$ 6 miliar untuk obligasi AS berjangka panjang. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu mengelola kurva imbal hasil di tengah kenaikan harga energi akibat perang Iran. Sehari sebelumnya, Wall Street juga melemah setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana buyback Treasury senilai US$ 6 miliar, sekitar tiga kali lipat dari nilai pembelian kembali biasanya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.