— Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan, menembus level US$ 100 per barel untuk minyak Brent dan minyak mentah Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Kenaikan lebih dari 6% ini dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap kapal tanker serta kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik US$ 6,42 atau 6,34% menjadi US$ 107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 6,43 atau 6,69% menjadi US$ 102,48 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei 2026, dengan lonjakan harian terbesar dalam hampir dua bulan.

Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah, yang menambah kekhawatiran pasar terhadap kelancaran jalur perdagangan dan pasokan energi global. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan telah merebut pelabuhan Mocha di Yaman. Situasi ini menimbulkan ancaman baru terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah, sementara aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz juga dilaporkan semakin terbatas.

Simon-Peter Massabni dari XS.com menyatakan bahwa serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menciptakan risiko baru bagi pasar minyak, di luar gangguan yang sebelumnya berpusat pada Iran dan Selat Hormuz. “Gangguan dapat merambat ke jalur ekspor, lokasi produksi, dan infrastruktur energi,” kata Massabni.

Risiko geopolitik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan AS menyerang fasilitas Pickaxe Mountain, dekat Natanz di Iran. Trump juga menyampaikan bahwa konflik tersebut kemungkinan akan berlangsung hingga setelah pemilihan paruh waktu AS pada November. Iran sebelumnya mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu, setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan akan meningkatkan eskalasi.

S&P Global Energy menilai pasar minyak mulai memasuki kondisi ‘normal baru’, di mana risiko gangguan pasokan menjadi ancaman yang berlangsung terus-menerus, bukan lagi sekadar gangguan sesaat. Namun, keberlanjutan reli harga minyak juga akan sangat bergantung pada permintaan dari China. Peningkatan pembelian minyak oleh China setelah sebelumnya mengalami pelemahan permintaan dapat memperbesar dampak gangguan pasokan terhadap harga.

David Jorbenaze dari ICIS mengatakan skenario bearish minyak sebelumnya banyak bertumpu pada lemahnya permintaan China. Jika permintaan kembali menguat, ruang bagi harga minyak untuk naik akan semakin besar. Dari sisi pasokan AS, persediaan minyak mentah justru turun 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu, penurunan yang lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis sebesar 1,55 juta barel.

Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026 menjadi 380.000 barel per hari (bph). Ini merupakan pemangkasan proyeksi untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Survei Reuters juga menunjukkan produksi OPEC turun sekitar 640.000 bph pada Agustus, di mana ekspor Arab Saudi terdampak perang dengan Iran, sedangkan blokade AS terhadap Iran turut memangkas pengiriman minyak dari negara tersebut.