— JAKARTA – Harga bahan bakar solar di pasar global mengalami lonjakan signifikan, bahkan jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah. Fenomena ini terutama dipicu oleh gangguan pasokan yang diperparah oleh konflik di Timur Tengah serta perang antara Rusia dan Ukraina. International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa harga solar di Amerika Serikat sempat menyentuh US$ 200 per barel pada awal September, menandai kenaikan sebesar 94% dibandingkan periode sebelum perang.

Kenaikan harga solar ini jauh lebih dramatis jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak mentah. Data IEA menunjukkan bahwa kontrak berjangka ICE Brent diperdagangkan di kisaran US$ 105 per barel saat laporan September 2026 disusun. Angka ini naik sekitar US$ 21 per barel sejak awal Agustus, atau sekitar 45% lebih tinggi dari level sebelum konflik.

Menurut IEA, perbedaan mencolok dalam laju kenaikan harga ini mengindikasikan bahwa sumber utama tekanan di pasar minyak saat ini bukanlah kelangkaan minyak mentah itu sendiri, melainkan lebih pada ketersediaan produk olahan, khususnya solar. Laporan Oil Market Report September 2026 yang dirilis IEA pada Jumat (11/9/2026) menegaskan hal ini.

Solar memegang peranan vital dalam perekonomian global, menyumbang hampir 30% dari total permintaan minyak dunia. Lonjakan harga yang terjadi di Amerika Serikat juga diikuti oleh Eropa dan Asia, dengan kenaikan harga yang tidak jauh berbeda.

IEA menjelaskan bahwa kelangkaan produk olahan ini berkaitan erat dengan terganggunya arus ekspor dari kawasan Timur Tengah. Pada bulan Agustus, total ekspor minyak dari negara-negara Teluk diperkirakan mencapai sekitar 13 juta barel per hari (BPH), angka ini hampir setengah dari volume ekspor sebelum perang.

Sementara itu, penurunan ekspor minyak mentah mulai menunjukkan perbaikan, turun sedikit di bawah 45%. Hal ini didukung oleh peningkatan aliran minyak melalui Selat Hormuz dan pengawalan militer Amerika Serikat yang memastikan kelancaran lalu lintas di jalur strategis tersebut.

Namun, situasinya berbeda untuk produk olahan dan LPG. Ekspor produk-produk ini masih tercatat sekitar 60% lebih rendah, atau setara dengan 3,7 juta BPH, dibandingkan dengan kondisi pada bulan Februari. Khususnya ekspor bersih solar dari negara-negara Teluk, rata-ratanya hanya mencapai 390 ribu BPH pada Agustus. Angka ini baru sedikit di atas seperempat dari level sebelum perang, mengingat arus produk melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.

Kondisi ini semakin diperparah oleh gangguan pada sistem penyulingan di Rusia dan hampir berhentinya ekspor produk setelah meningkatnya serangan dari Ukraina. Secara gabungan, ekspor bersih solar dari kawasan Teluk dan Rusia pada Agustus tercatat 1,6 juta BPH lebih rendah dibandingkan Februari. Padahal, kedua wilayah tersebut sebelumnya menyumbang hampir 45% dari total perdagangan solar global melalui jalur laut.

Meskipun demikian, sebagian dari kehilangan pasokan ini mulai tertutupi oleh peningkatan produksi dari wilayah lain yang berupaya memaksimalkan keuntungan di tengah margin yang tinggi, bahkan hingga mendekati batas maksimal kapasitas produksi mereka.