Jurnal Indonesia — Bogor, Jawa Barat – Upaya pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga, Bogor, memasuki hari kelima pada Kamis (10/9/2026). Salah satu metode yang diandalkan untuk memadamkan api di area yang sulit dijangkau adalah melalui teknik water bombing menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara.
Komandan Lanud Atang Senjaya, Marsma TNI A. F. Picaulima, menyatakan bahwa pada hari keempat, helikopter TNI AU berhasil menyiramkan total sekitar 15 ton air ke titik-titik api. Jumlah tersebut merupakan hasil dari lima kali sorti penerbangan.
“Dalam satu kali sorti, helikopter membawa sekitar tiga ton air untuk dijatuhkan pada titik api. Kalau kita sudah lima kali sorti, sekitar 15 ton air sudah kita buang,” jelas Marsma TNI A. F. Picaulima dalam keterangan resminya pada Jumat (11/9/2026).
Metode water bombing ini dipilih karena kemampuannya menjangkau area yang sulit diakses oleh petugas pemadam dari darat. Air disiramkan langsung ke pusat kobaran api untuk memadamkannya.
Namun, pelaksanaan metode ini tidak lepas dari kendala. Marsma TNI A. F. Picaulima mengungkapkan bahwa kondisi cuaca dan keterbatasan pencahayaan menjadi tantangan utama. “Pelaksanaan water bombing turut menghadapi kendala kondisi cuaca dan pencahayaan. Setelah kondisi mulai gelap, sumber air yang digunakan untuk pengisian tidak lagi dapat terlihat dengan jelas sehingga penerbangan tidak dapat dilanjutkan,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya selalu siap mengerahkan armada helikopter apabila dibutuhkan untuk membantu pemadaman api, sembari menunggu informasi lebih lanjut mengenai perkembangan penanganan kebakaran tersebut.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menjelaskan karakteristik kebakaran di TPA Galuga. Menurutnya, api yang membara selama berjam-jam dapat merambat ke dalam tumpukan sampah dan berubah menjadi bara api di dalamnya.
“Ketika api sudah muncul selama 12 jam, di dalamnya terjadi bara. Ketika dibalik, muncul api. Ini yang kemudian harus kita sikapi,” ujar Yudi.
Untuk mengatasi bara api yang sulit dijangkau, alat berat dikerahkan guna membongkar tumpukan sampah agar proses pendinginan dapat dilakukan secara maksimal. Yudi juga menekankan pentingnya pengaturan lalu lintas di sekitar TPA untuk memastikan kelancaran mobil pemadam saat keluar-masuk lokasi.
“Selain itu, selang pemadam akan diperpanjang hingga titik api yang sulit dijangkau, sementara titik tertentu akan dibuatkan parit dan saluran air untuk mencegah api kembali menyebar,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.