Jurnal Indonesia — Pengembangan industri di Indonesia ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi. Industri juga perlu memperkuat rantai nilai, meningkatkan daya saing, serta memastikan pemanfaatan sumber daya berlangsung secara berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung dalam acara pembukaan IEE Series–Engineering Week 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026).
Yuliot menekankan bahwa potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia harus dapat diterjemahkan menjadi nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. Dorongan ini menjadi semakin relevan di tengah agenda pemerintah yang mempercepat hilirisasi dan memperkuat ketahanan industri nasional. “Hilirisasi dituntut mampu menciptakan proses pengolahan yang lebih efisien sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang tertinggal di dalam negeri,” ucap Yuliot dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Lebih lanjut, keberlanjutan tidak lagi hanya ditempatkan sebagai agenda lingkungan semata. Yuliot menerangkan, efisiensi penggunaan energi dan material, peningkatan produktivitas, pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab, hingga keselamatan operasional menjadi bagian integral dari upaya industri untuk menjaga daya saing dalam jangka panjang.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Febrian Alphyanto Ruddyard menambahkan bahwa tantangan pembangunan saat ini bukan semata menciptakan lebih banyak kebijakan, kerangka kerja, maupun lembaga. “Tantangannya adalah membuat semuanya bekerja sama, bekerja bersama menuju sistem pertanggungjawaban bersama dan mendukungnya melalui informasi yang terpadu, pembiayaan yang terkoordinasi, serta akuntabilitas bersama,” ujar dia.
Dengan demikian, agenda hilirisasi ke depan tidak hanya diukur dari seberapa besar kapasitas produksi yang dibangun. Ukuran keberhasilan juga mencakup kemampuan industri dalam menciptakan nilai tambah, memperkuat rantai pasok domestik, menggunakan sumber daya secara efisien, dan menghasilkan produk yang semakin kompetitif.
Pesan mengenai pentingnya hilirisasi yang berorientasi pada nilai tambah dan keberlanjutan ini menjadi salah satu fokus utama dalam IEE Series–Engineering Week 2026. Acara ini mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation” dan mempertemukan delapan sektor industri dalam satu ekosistem, mulai dari pertambangan, minyak dan gas, pengolahan logam dan metalurgi, konstruksi, beton, pengelolaan air, hingga manajemen bencana dan perlindungan sipil.
Gelaran tersebut diikuti oleh sebanyak 1.694 perusahaan dari 34 negara dan kawasan, dengan total area pameran mencapai lebih dari 88.000 meter persegi. Keterhubungan delapan sektor industri yang ditampilkan mencerminkan kebutuhan industri yang semakin terintegrasi, terutama dalam menghadapi tuntutan efisiensi, teknologi, infrastruktur, dan ketahanan.
IEE Series–Engineering Week 2026 berlangsung pada 9-12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini tidak hanya menghadirkan delapan pameran industri, tetapi juga rangkaian seminar, forum, sesi jejaring bisnis, dan berbagai program pendukung lainnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.