Jurnal Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai pekan kedua September dengan tren positif yang kuat. Penguatan sebesar 1,82% ke level 6.636,475 pada pekan sebelumnya menjadi pijakan bagi indeks untuk menentukan arah pergerakannya ke depan. Peningkatan aktivitas perdagangan menunjukkan minat investor di pasar saham tetap tinggi.
Rata-rata volume transaksi harian BEI pekan lalu mencapai 48,99 miliar saham dengan nilai transaksi Rp19,22 triliun dan frekuensi 2,39 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.599 triliun. Namun, arus dana asing yang mencatat jual bersih Rp29,76 miliar pada pekan lalu, dengan akumulasi net sell sejak awal tahun mencapai Rp68,05 triliun, menjadi faktor yang perlu dicermati. Kembalinya aliran dana asing diharapkan dapat memperkuat momentum IHSG.
Analisis Teknikal dan Proyeksi IHSG
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa secara teknikal, IHSG masih berada dalam momentum bullish dan tren naik. Hal ini terlihat dari indikator MA 20 dan MA 60 yang membentuk bullish crossover, serta stochastic dan RSI yang berada di area positif.
Untuk pekan ini, Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 6.552-6.453 dan resistance 6.695-6.780. Namun, penurunan volume perdagangan perlu diwaspadai karena dapat membatasi pergerakan indeks.
Sentimen penggerak IHSG diperkirakan datang dari global, terutama data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari ekspektasi. Kenaikan US Farm Payrolls periode Agustus di atas konsensus dapat meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga pada September ini.
Meskipun demikian, tekanan terhadap IHSG berpotensi diredam oleh valuasi sejumlah saham yang relatif menarik dan peluang bargain hunting, terutama jika investor asing mulai kembali masuk. Nafan mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mewaspadai sentimen terkait nilai tukar rupiah, US Treasury, arus dana asing, dan risiko geopolitik AS-Iran sebagai penentu risk appetite.
Nafan menyarankan investor untuk mengakumulasi saham-saham pilihan dengan fundamental kuat, fokus pada saham undervalued yang menunjukkan tanda-tanda reversal, serta menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Ia merekomendasikan saham ADMR dengan target harga (TP) Rp1.715, ASSA dengan TP Rp665, dan DSNG dengan TP Rp1.695, serta stoploss di 1575.
Risiko Koreksi Jangka Pendek dan Rekomendasi Saham
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti risiko koreksi dalam jangka sangat pendek. Untuk satu hingga dua hari ke depan, IHSG dinilai masih berada dalam fase bearish dan berpotensi menguji area support terdekat di 6.626. Skenario terburuknya, IHSG bisa terkoreksi dengan area terdekat di 6.578-6.626.
Untuk strategi saham, Herditya merekomendasikan trading buy AMRT dengan TP Rp1.345-1.365, buy on weakness ELSA dengan TP Rp780-830, dan buy on weakness SSMS di TP Rp1.065-1.165.
Agenda pasar penting pekan ini adalah gelaran Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan BEI bersama SRO pada 7-11 September. Sebanyak 45 perusahaan tercatat dijadwalkan memaparkan kinerja, strategi, dan prospek bisnis mereka secara virtual.
Pasar Surat Utang
Di pasar surat utang, asumsi imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9% dalam RAPBN 2027 dinilai masih realistis. Namun, level tersebut lebih tepat dipandang sebagai rata-rata yield tahunan untuk menghitung beban bunga pemerintah, bukan target level harian.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, memperkirakan yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun hingga akhir 2026 akan bergerak sideways dengan kecenderungan turun tipis pada kisaran 6,85%-7,20%. Untuk 2027, yield SUN 10 tahun diproyeksikan berada dalam rentang 6,70%-7,20%.
“Untuk 2027, kisarannya kemungkinan berada di 6,70 hingga 7,20%. Level 6,9% akan lebih mudah dicapai jika Treasury 10 tahun tidak kembali naik dari 4,7% hingga 4,8%, rupiah bertahan di bawah Rp17.700 dan bergerak mendekati asumsi Rp17.500, serta lelang SBN tetap terserap dengan baik,” kata Yusuf.
Pemerintah mengusulkan asumsi suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,9% dalam RAPBN 2027, bersama asumsi pertumbuhan ekonomi 6%, inflasi 2,5%, dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS.
Yusuf menambahkan, salah satu tantangan utama penurunan yield SUN pada 2027 berasal dari sisi pasokan. Meskipun defisit RAPBN 2027 ditetapkan sebesar Rp671,2 triliun atau 2,4% terhadap PDB, kebutuhan pembiayaan utang tetap besar. Pembiayaan utang pemerintah dirancang mencapai sekitar Rp876,3 triliun, dengan penerbitan SBN neto sekitar Rp779,9 triliun. “Defisit yang lebih kecil tidak otomatis berarti kebutuhan penerbitan SBN ikut turun,” jelas Yusuf.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.