Jurnal Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Pada penutupan Senin (7/9/2026), IHSG tercatat melemah 16,8 poin atau 0,25% ke level 6.619.
Sektor perindustrian mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,25%, sementara sektor keuangan mengalami pelemahan terdalam di 0,76%. Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya pada Selasa (8/9/2026) memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support di 6.600 dan resistance di 6.710.
Kekhawatiran utama datang dari perlambatan pertumbuhan upah yang menempatkan Bank Sentral Eropa (ECB) pada posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan tekanan terhadap harga energi. Pertemuan ECB pada 10 September mendatang berpotensi menghasilkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, yang dinilai Pilarmas sudah sesuai untuk menopang perekonomian secara bertahap.
Proyeksi inflasi di Kawasan Eropa diperkirakan akan menyentuh level tertinggi sejak 2023, dengan kenaikan harga konsumen dari 2,9% menjadi 3,3%. Pilarmas mengapresiasi kinerja ECB yang dinilai berhasil mengembalikan inflasi ke target 2% sebelum konflik AS-Iran, serta responsif dan komunikatif dalam kebijakan moneter.
Pilarmas Investindo Sekuritas melihat IHSG dan pasar obligasi domestik masih menghadapi potensi tekanan koreksi yang cukup besar. Meningkatnya tensi geopolitik global telah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kenaikan harga energi, yang berimbas pada inflasi. Harga minyak WTI Crude telah menembus US$ 92 per barel, sementara Brent mendekati US$ 100 per barel.
Di sisi lain, Iran mengindikasikan kesepakatan dengan Oman akan segera tercapai, yang berpotensi membuka jalur lebih banyak kapal tanker dan komersial melalui Selat Hormuz. Analis memperkirakan sekitar 7 juta barel minyak per hari dapat mengalir dari selat tersebut, yang dapat meringankan tekanan inflasi sektor energi.
Pergerakan IHSG hari ini akan sangat bergantung pada perspektif pelaku pasar dalam menilai situasi. Potensi koreksi tetap ada, namun kesempatan untuk menguat juga masih terbuka.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat meningkat menjadi US$ 146,5 miliar dari US$ 145,3 miliar pada akhir Juli. Kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak, jasa, dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, yang melebihi kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang berkisar tiga bulan impor. Hal ini menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia yang kuat dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah serta sektor keuangan.
Pilarmas menilai kenaikan cadangan devisa menjadi US$ 146,5 miliar sebagai sinyal positif bagi ketahanan eksternal Indonesia, memberikan penyangga yang kuat terhadap potensi tekanan nilai tukar dan kebutuhan pembayaran eksternal. Level ini juga memungkinkan Bank Indonesia melakukan stabilisasi rupiah tanpa kekhawatiran penurunan cadangan yang cepat.
Namun, kenaikan ini perlu dicermati karena sebagian berasal dari pinjaman luar negeri pemerintah, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental eksternal. Tren cadangan devisa ke depan akan bergantung pada kinerja ekspor, arus modal asing, kebutuhan impor, pembayaran utang, serta intervensi Bank Indonesia di pasar valas. Secara keseluruhan, posisi devisa saat ini masih solid dan mendukung stabilitas rupiah serta kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Menyikapi kondisi tersebut, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham BFIN, BULL, dan DEWA untuk perdagangan pada Selasa (8/9/2026).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.